Selasa, 12 Juli 2016

(Short Story) Sinterklas Berpeci Merah Dengan Logo Palu Arit Dan Berkaos Gambar Karl Marx

Saya tidak pandai membuat judul.
Membaca judul di atas mungkin Anda akan berpikiran semacam; "Ini paling umpan-klik untuk mendapat pengunjung!" atau "Ini hanya tulisan sampah!" atau mungkin "Ini memang sampah."
Tulisan ini memang sampah--dan Anda sudah diperingati sejak membaca ini.
Tapi ketika Anda membaca cerita pendek ini sampai akhir dan berkata "Ini memang sampah", Anda sudah membuang waktu lama.
Ini hanya cerita. Sebuah cerita baiknya disebarkan. Tak perlu diambil maknanya apa. Tak suka, masukkan ke keranjang sampah. Anda suka? Berarti Anda memang pengumpul sampah.
Sudahlah. Pengantar ini begitu payah.
Jadi silakan dibacah.
Tak lupa komentarnyah.
Atau kalian memang sampah.
Hah








Sinterklas Berpeci Merah Dengan Logo Palu Arit Dan Berkaos Gambar Karl Marx
"Not Happy? It's Not Even ChristFuckinMas"


Bard tak sadar tangannya sedang menggeledah tumpukan baju diskon di sebuah butik yang mau tutup. Tutup dalam artian sebenarnya, bukan karena jam operasinya sudah berakhir. Dia tidak berdesak-desakan dengan pemburu diskonan yang lain karena butik ini memang sepi. Pelayannya cuma satu dan pengaduk baju diskon ini pun hanya Bard dan seorang wanita tua yang kebetulan lewat di ujung Mall ini. Ternyata papan bertuliskan 70% tidak mampu menarik minat orang untuk datang kemari. Atau mungkin karena ini dekat dengan Natal dan akhir tahun sehingga diskon sebesar itu tidak menjadi magnet tersendiri. Apalagi butik yang mau tutup tepat saat pergantian tahun kelak, tidak menjual barang-barang branded seperti butik kebanyakan.

Bard sendiri tak sengaja dan tak sadar sudah hampir setengah jam mengaduk baju diskon tersebut hingga tumpukan terakhir. Berbagai macam kaos tidak menarik matanya dan karena tangannya sudah pegal, dia masuk ke dalam butik untuk memilih pakaian akhir tahunnya. Untung butik tersebut menjual pakaian untuk pria walau tidak selengkap departement store sebelahnya. Jeleknya adalah lagu Radiohead 'No Surprise' diputar berulang seakan tak ada lagu lain yang bisa didengarkan. Lagu ini bergema mengalahkan lagu Natal yang menggema ceria di seluruh Mall.

Seorang pelayan perempuan yang memakai baju polo dan jins belel tampak bosan saat Bard masuk. Dia tidak mengumbar senyum atau sapaan seperti pelayan toko lainnya. Dia hanya memandangi Bard sebentar lalu fokus lagi ke jari mungilnya. Bard sendiri tak acuh dengannya. Dia kembali memilih pakaian. Kadang dia mengambil pakaian dari gantungan, melihatnya sebentar lalu mengembalikannya. Pakaian, aksesori, apapun yang dijual butik tak menarik niat Bard sama sekali. Dia menghampiri pelayan perempuan tadi.

"Aku di sini mencari pakaian." Ucapan Bard tidak dia dengarkan sementara vokalis Radiohead masih menjerit di speaker. Di luar ada pasangan yang mampir mengaduk tumpukan baju tapi mereka pergi karena tak tertarik.

"Anda tidak ke sini mencari makanan." Jawaban dingin yang tak sepatutnya diucapkan oleh pelayan kepada pelanggan. Dia tampak tak peduli.

"Ya saya tahu itu. Tapi seseorang menyarankanku agar ke sini karena di sini menyediakan pakaian yang kubutuhkan." Bard mendapat perhatian pelayan itu.

Bard yang lebih tinggi beberapa senti darinya tak membuat si pelayan tertarik untuk terus mendongak. Potongan rambut Bard yang acak-acakan serta rambut di sekitar mulut yang tak rapi tumbuhnya membuat kesan kumuh perkotaan menempel di diri Bard. Badan Bard sendiri terlalu besar untuk pakaian yang dijual di butik ini. Sementara Bard tertarik dengan tindik hidung si pelayan wanita. Kuku hitam yang ada glitternya juga menarik perhatiannya, semacam angkasa yang berkelip. Kelihatan kuno tapi Bard yakin cewek ini pengagum berat antara aliran musik Emo atau Goth.

"Siapa?"

"Promotorku. Atau manajer. Terserah dia menyebut dirinya apa. Tapi aku butuh pakaianku."

"Kau yakin tak salah butik? Kami akan tutup akhir tahun ini."

"Aku masih single tahun ini." Keduanya diam dalam keheningan dan saat lagu telah habis lalu terulang lagi si pelayan menuju ke kasir.

"Akan kutelepon manajerku," katanya sambil mengangkat telepon di samping mesin kasir.

Bard menunggu. Cewek itu berbincang sebentar lalu menatap ke arah Bard yang memunggunginya. "Manajermu. Promotormu. Siapa namanya?"

"Alfred." Bard tak menengok sama sekali. Dia sedang memandangi butik ini. Sementara pengunjung di luar sana kian lalu lalang. Obral dan diskon merupakan cahanya lampu bagi laron. "Seperti pelayannya Batman." Si pelayan tak mendengarkan. Bard juga masa bodoh. Dia ingat Alfred promotornya ini memang hampir mirip dengan pelayan Bruce Wayne.

Si pelayan menghampiri Bard. "Kau akan dapat pakaianmu. Tapi tunggu aku selesai shift dulu."

"Kau suka ayam goreng?" tanya Bard.



*

Alfred yang dikenal oleh Bard tak jauh dari kesan pria tua yang sudah lelah mendedikasikan waktunya kepada dunia. Tapi yang membuatnya bertahan adalah senyumnya.

"Senyum, temanku. Adalah obat bagi orang seperti kita."

Itu adalah ucapan yang pertama kali keluar dari mulut Alfred saat pertama kali bertemu Bard tepat saat Bard keluar dari penjara. Kasus yang dialami Bard hanya sepele ... membeli buku komunis, sayap kiri di toko kapitalis sambil memakai kaos bergambar palu arit. Saat hendak keluar beberapa pria mengapitnya dan membawa Bard ke kantor polisi. Keterangan Bard tidak lengkap sehingga dia harus masuk sel selama empat minggu dengan tuduhan; menyebarkan aliran komunis di tata dunia baru. Kasus Bard diliput televisi nasional. Beberapa ahli sejarah mendukung Bard agar bebas tapi pemerintah dan jaring laba-labanya yang jauh lebih kuat dari benang manapun tak memberi ruang gerak bagi orang yang ingin membebaskan Bard. Buku yang dibeli Bard dibakar, penerbit yang mencetak buku itu dicekal. Kasus Bard adalah picuan pertama kasus lain yang serentak terjadi di negara dunia baru ini. Para orang tua tak terima anaknya ditangkap hanya karena membeli buku seperti itu. Tapi orang tua Bard tak pernah peduli padanya sejak Bard memutuskan menjadi penjaga rental komik.

Saat dimasukkan ke dalam penjara dan hidup sebagai tahanan, Bard berkenalan sebagai Alfred.

"Aku adalah terapis psikologis." Dia mengulang-ulang siapa dirinya di hadapan tahanan. Seorang tahanan yang ditangkap karena mencuri pulsa mengatakan pada Bard bahwa pria tua seperti Alfred awalnya diagungkan. Kata-katanya memotivasi seluruh tahanan sampai beberapa tahun yang lalu dia melakukan percobaan pemerkosaan terhadap anak tirinya.

"Anak tirinya? Dia pelacur sih," kata pencuri pulsa sekaligus pemasang penguat sinyal dan mencuri layanan tv kabel dari perusahaan pemerintah. "Kami pernah memakainya sesekali saat anak tirinya menjenguk orang bangsat ini kemari. Sipir, kepala polisi ... semua suka anak tiri terapis itu." Setelah Bard bebas dan ingin menemui anak tiri Alfred, Alfred mengatakan anaknya sudah mati.

"Penyakit kelamin. Hebat ya? Mungkin aku juga terkena juga." Alfred mengatakannya sambil tertawa. Sebenarnya bukan kemauan Bard untuk menemui psikolog ini tapi pemerintah menganjurkan agar pencucian otak pada orang yang terlibat dalam kasus pembelian buku aliran kiri dilakukan di setiap kota dan Bard adalah satu-satunya pasien Alfred.

Rambut putih Alfred tidak lantas membuatnya ingin dipanggil pak atau mas. "Ini agar kita tidak mempunyai batasan."

"Batasannya adalah aku waras dan kau gila," jelas Bard saat sesi pertama mereka dimulai di rumah Alfred.

"Kenapa demikian?"

"Aku masih bisa membayar pelacur sementara meniduri anak tiri Anda sendiri merupakan hal gila."

"Ah ya ... ketika kita hidup di jaman nabi, hal yang disebut gila adalah kau berkata bahwa kau bisa membawa keselamatan." Alfred menghela nafasnya seakan bersalah atas kasus yang menimpa dirinya sendiri. Tiga tahun di penjara dan kembali lagi sebagai psikolog kriminal tidak membuatnya lantas bisa lepas dari trauma di dalam penjara.

"Menyedihkan bukan. Kuliah dan belajar kriminolog. Hanya melintasi sel dan tidak pernah tidur di dalamnya. Lalu mengambil subyek tentang hubungan antar para tahanan, di wisuda lalu aku baru benar-benar merasakan masuk ke dalam sel, tiga puluh tahun kemudian."

"Menyedihkan karena kita manusia."

Alfred mengangguk setuju. "Kau merasa dirimu manusia."

"Ya tentu saja." Bard menambahkan dengan nada bangga, "Kalau aku tidak tahu kebobrokan negara ini mana mungkin aku mencari kebenarannya di buku."

"Ah jadi kau mencari kebenaran?"

"Serta jawaban."

"Lalu keselamatan?" Bard tidak menjawab pertanyaan itu.

"Selamat dari apa?"

"Entah. Dari jawaban yang kau pilih." Bard memutuskan untuk diam.

Alfred kembali menanyainya. "Kau mau tahu jalan keselamatan?"



*

Bard dan pelayan toko wanita itu sudah berada di gerai makanan cepat saji yang menyajikan ayam goreng. Bard yang membayar dan rasanya sudah puas melihat cewek di depannya lahap makan ayam goreng tepung yang dipesannya. Bard sendiri hanya memesan kentang goreng dan soda serta satu buah sayap yang sudah dia habiskan dua menit setelah mereka duduk. Sisanya dia makan kentang goreng dan memandangi cewek tersebut. Ketika ayamnya tandas cewek itu tidak berkata apa-apa. Bahkan saat Bard mengeluarkan dompet untuk membayar tidak ada ucapan terima kasih keluar dari mulutnya.

"Memangnya apa pakaian yang kau pesan dari bosku?" tanya cewek itu.

"Entahlah. Manajerku mengatakan pakaian itu harus aku kenakan."

"Pakaian baru? Memangnya bosku penjahit? Aku sendiri tak tahu siapa yang membayarku."

"Aku tidak tahu. Urusan ini memang diserahkan padaku. Tadi pagi aku mengambil paket di stasiun tanpa tahu apa isinya. Lalu siangnya aku diharuskan mengambil pakaian ini."

"Kau semacam pembantu?"

"Tidak juga."

"Lalu kenapa kau mau disuruh mengambil barang?"

"Sudah menjadi tugasku."

"Menjadi pembantu?"

"Nggak begitu juga."

"Kau pelayan si Alfred?" Si cewek mengatakan si Alfred dengan cepat sehingga Bard mendengarnya seperti kata si kampret.

"Dia bukan si kampret. Aku bukan pelayannya. Kami sama-sama mau melayani orang." Cewek itu tidak tertarik. Bard harus membuatnya betah duduk sebelum dia mengambil pakaiannya. "Alfred orang yang membantuku. Kami punya masalah yang beda tapi dia menolongku. Maka aku mau disuruh untuk mengambil barangnya."

"Tanpa bayaran? Dari mana kau bisa dapat uang?"

"Entahlah."

"Kau sudah berkali-kali bicara entahlah dan tidak begitu juga. Kalian ini siapa? Mata-mata? Agen rahasia? Atau sinterklas?"

Bard sama-sama memandangi pelayan restoran di area makan Mall ini yang memakai kostum sinterklas.

"Kasihan bukan? Dia tidak tahu apa itu sinterklas. Tapi disuruh memakai kostum yang mirip dengan sosok yang dibuat oleh Coca-cola."

"Masa bodoh. Dia dibayar. Aku seharian diharuskan memakai topi Natal padahal aku tidak merayakannya."

"Aku juga tidak merayakannya." Ada jeda. "Dulu sih iya. Mungkin sekarang tidak lagi."

"Pindah?"

"Ke mana?"

"Maksudku ... apa kau pindah? Atau kita mau pindah?"

"Aku tidak pindah dan kita mau pindah ke mana?"

"Ke tempat parkir."

Bard berpikir kalau dia di tempat parkir, dia bisa bicara lebih santai dengan cewek itu. Sepanjang menyisiri parkir mereka berdua bahkan tidak berbicara sama sekali. Cewek itu berhenti di depan sebuah mobil warna hijau lumut.

"Kita mau ke mana?" tanya Bard. "Aku membawa mobil sendiri."

"Oh ya itu urusanmu. Bukannya kau mau mengambil barang?"

Bard ingat tujuannya memang bukan untuk kencan dengan si cewek yang baru dia kenal. Jadi ketika si cewek membuka bagasi mobil dan melihat ada tas plastik hitam di bagasi mobil itu, dia hanya menudingnya saja.

"Itu barangmu. Ambil sendiri." Bard yang menurunkan barangnya.

"Aku tak menyangka barang ini berat."

"Aku juga tak menyangka kenapa bos bisa menaruhnya tanpa sepengetahuanku."

"Maksudnya?"

"Buka."

"Di sini?" Cewek itu menatap tajam Bard seolah dia sudah mengulangi kalimat perintah barusan. Bard celingukan melihat tempat parkir yang sepi lalu saat hendak membuka celananya dia sadar si cewek menendang tas plastik hitam di tanah.

"Aku ingin tahu apa yang kau pesan dari bosku."

"Haruskah?"

"Tentu saja. Sebab kalau saja kau atau si kampret itu komplain terhadap butik bosku, maka aku yang dimarahi karena barang ini berada di mobilku dan kau saksi memberatkanku. Aku hanya ingin tahu apa isinya. Pakaian apa yang kalian pesan sehingga bosku harus menutup butiknya dan aku kehilangan pekerjaan."

"Maafkan aku soal pekerjaanmu. Tapi kita bisa keluar bersama lagi?"

"Kenapa tidak kau buka saja tas plastik ini?!"

Si cewek sudah menendang tas plastik hitam itu berkali-kali. Bard mencegahnya agar apapun yang di dalam tas plastik itu tidak rusak. Rasa penasaran si cewek tidak terpuaskan begitu melihat isi plastik tersebut.

"Hanya ini? Pakaian butut ini?"

Bard sendiri tidak menerima soal pakaian yang surut ia ambil. Tapi Alfred mengatakan bahwa dia harus membeli pakaian di butik yang ditujukan padanya.

"Pakaian ini bukan pakaian biasa. Bahkan terlalu biasa. Mungkin dia bisa ditaruh di tumpukan diskon atau dipajang di etalase. Kalau kau bingung katakan pada manajer aku yang menyuruhnya," jelas Alfred.

Si cewek menggeledah isi tas plastik hitam tersebut dan terkekeh. "Pantas saja barang seperti ini tidak bakal dipajang di butik. Kalau dipajang ... mungkin itu sebabnya butiknya tutup."

"Jadi kau masih mau pindah ke tempat lain?"



*

"Jalan keselamatan adalah jalan yang kau pilih untuk menyelamatkan dirimu sendiri dan orang lain. Kenapa dirimu lebih diutamakan karena kau tidak akan ditolong atau mampu menolong yang lain saat sebuah kejadian yang menyesalkan menimpamu. Keselamatan hanya ada pada dirimu bukan orang lain. Orang lain hanya menyelamatkanmu atau diselamatkan olehmu. Inti dari jalan ini adalah ... kita membahagiakan orang lain yang belum mampu membahagiakan kita. Terkesan susah atau terlalu ambisius? Tidak. Kita ini terpilih untuk menempuh jalan ini. Sehingga kita berhak menerima atau menolaknya. Asaku kita semua bisa bersama menempuh jalan ini tanpa bantuan juru selamat."

Penjelasan dari Alfred ini membuat Bard berpikir. Benarkah orang seperti Alfred ini gelarnya psikolog?

"Apa yang ingin kubuktikan padamu temanku. Adalah kita terpilih dan sepatutnya kita tak menolak anugerah ini. Sesungguhnya begitu nestapa akan dihadirkan pada hidup kita bila kau menolaknya."

"Bila aku menolak maka aku akan masuk penjara lagi?" Alfred muram sebelum menjawab pertanyaan Bard barusan.

"Mungkin saja. Program cuci otak ini tidak semerta membuatmu berpikiran sama seperti pemerintah. Kuberitahu tentang satu hal ..." Alfred menurunkan suaranya. "Aku juga benci pemerintah. Mereka terlalu Orwellian sekali. Bukankah harusnya mereka tetap seperti begitu saja tanpa meniru literasi ini?"

"1984 buku bagus," potong Bard.

"Aku tahu itu. Apa kita butuh seperti itu?" Alfred memelankan suaranya lagi. "Kita bisa saja membuat program lain seperti yang mereka perintahkan kepada kita dan hasilnya bakal jauh spektakuler."

"Apa itu?"

"Maka kutanya dulu padamu ... apa kau mau ikut dengan jalan keselamatan ini?"



*

Bard menemui si pelayan cewek itu di butik tempatnya bekerja setelah mereka gagal pindah ke tempat lain karena si cewek memilih pulang setelah makan. Cewek itu masih muram dan lagu No Surprise masih mengalun mengalahkan lagu natal yang bergema.

"Kenapa tidak ada dekorasi natal?" sapa Bard. Si cewek hanya meliriknya saja.

"Karena butik ini mau tutup."

"Bukankah lebih baik kalau butik ini juga ikut memeriahkannya?"

"Bosku tidak merayakan dan uang untuk mendekorasi sudah untuk menutup biaya operasional. Selamat datang pelanggan. Ada yang bisa saya bantu?" Bard menengok ke belakang mengira ada pelanggan lain datang ke butik. Namun yang dimaksud oleh cewek itu adalah dirinya.

"Oh aku? Ya ada. Kau ingat isi bungkusan plastik kemarin?"

"Barang rongsok."

"Tapi kau menjualnya."

"Aku tidak menjualnya. Aku hanya membantu menjualnya."

"Bila tidak ada kamu, barang itu tidak terjual. Berarti kau menjualnya."

"Bila barang tidak aku jual maka aku sudah menjadi pemilik Mall ini. Masalah?"

Bard berpikir sejenak. "Tidak. Tapi itu bagus. Kau hebat sekali tanpa menjual apa-apa langsung menjadi pemilik Mall ini."

"Lalu apa maumu."

"Oh itu ... aku mencari sabuk. Kemarin yang kucoba ternyata terlalu besar dan sabukku tidak muat. Aku harus cari sabuk yang paling panjang."

"Tunggu sebentar." Si cewek meninggalkan Bard dan kembali sementara Bard tidak beranjak dari tempatnya berdiri. "Ini."

"Ada ruang ganti?"

"Kacanya sudah dipindah."

Bard sadar bahwa beberapa barang di butik ini sudah tak ada. Dia melihat harga sabuk tersebut.

"Aku beli." Si cewek menuju ke kasir sementara Bard mengikutinya.

"Ini kembaliannya."

"Mau kutraktir ayam goreng sambil cerita? Aku mumpung punya uang kembalian."

Si cewek menjawab dengan muram. Tidak kaget Bard akan mengajaknya makan lagi.

"Shiftku sebentar lagi selesai." Bard menyambutnya dengan senyuman.



*

"Jalan keselamatan yang kita pilih adalah kita memberi kebahagiaan. Sekarang temanku, apa kebahagiaan yang tepat untuk diberikan kepada saudara-saudara kita?"

"Entahlah. Memberi mereka lelucon?" tebak Bard.

"Ya! Tentu saja. Itu bisa diatur. Tapi ini sebuah lelucon hebat yang bikin mereka tertawa sekaligus menangis. Kejutan yang indah bagi mereka. Bukankah ini momen yang tepat?"

"Mungkin."

"Apa kau tidak ingat momen kebahagiaan yang sebentar lagi akan datang?"

Bard berpikir tentang kebahagiaan dan hari-hari yang akan datang. Semuanya mengabur.

"Merah/Jing-a-ling. Bunyi bel ...."

"Halloween?"

"Aku heran kenapa mereka bisa menangkapmu karena membaca buku bodoh seperti itu."

"Buku yang kubeli tidak bodoh. Akulah yang bodoh."

"Mereka tidak mencuci otakmu di penjara?"

"Mereka hanya menanyaiku tentang pentingnya sebuah rasa nasionalisme."

"Ya. Itu yang mereka berikan padaku. Apa artinya nasionalisme bila kesejahteraan tak pernah mampir ke rakyatnya?"

"Kau tidak akan bicara demikian di penjara lagi kan?"

"Oh tidak. Ingat kita akan membawa kebahagiaan Natal bersama mereka."

"Jadi rencananya apa?"

Alfred senang sekali sampai dia perlu menambahkan efek tepuk tangan saat mengucapkannya.

"Kita akan menjadi sinterklas atau santa claus di penjara!"



*

Bard dan si cewek tidak lagi berada di makanan cepat saji. Si cewek malas makan saat tempatnya penuh. Jadi mereka memutuskan untuk memakan bakso cepat saji. Bard sendiri hanya memesan ayam dan sambal.

"Baksonya tidak enak."

"Kenapa tidak memilih ayam goreng saja?"

"Aku tidak suka dengan keramaian." Si cewek juga melihat sekitarnya. "Juga tidak suka melihat hiasan Natal."

"Terlalu komersial?"

"Mereka memakainya dengan terpaksa. Mereka bukan anak kecil yang senang memakai sesuatu lalu memamerkannya kepada setiap orang yang lewat di hadapannya. Aksesoris itu hanya sebagai penanda saja bukan pelengkap."

"Tapi mereka juga bahagia."

"Siapa?"

Bard memperhatikan pelayan-pelayan makanan dengan aksesori Natal ini. Si cewek mengikuti mata Bard.

"Tidak. Mereka tidak bahagia."

"Kalau tidak bahagia mungkin mereka akan bergabung denganmu."

Si cewek hanya mendenguskan nafasnya. "Jadi aku tak bahagia?"

"Dengan suasana seperti ini dan kau malah memutar lagu sendu di toko selama dua hari berulang-ulang? Lalu butik tempatmu bekerja tutup sementara kau belum punya pekerjaan pengganti, apa yang lebih tidak bahagia dari itu?"

Si cewek menunjuk piring yang ada di depannya. "Aku masih bisa ditraktir orang asing."

"Namaku Bard. Dan mentraktir dirimu adalah sebuah jalan keselamatan demi kebahagiaan yang kupilih."

Si cewek tertawa datar. "Seperti menjadi santa?"

"Ya itu memang tujuan akhirnya."

"Tapi pakaian kemarin sungguh aneh."

"Kami menggabungkan budaya sinterklas dengan budaya di sini."

"Tidak. Maksudnya bukan seperti itu. Kau mengejek."

"Kenapa bisa?"

"Kau tidak bisa membuat sesuatu yang sempurna di mata orang lalu kau buat cacat demi lelucon atau candaan yang berlebihan. Kau mengejek semua yang senang dengan kesempurnaan." Bard masih tidak paham. Dia memajukan tubuhnya, si cewek juga melakukan hal yang sama.

"Kau tahu sinterklas seperti apa?" tanya si cewek.

"Ya. Pria gendut berjenggot putih memakai jaket merah dan turun dari kereta rusanya sambil membawa hadiah."

"Lalu kemarin ... pakaian apa yang diberikan padamu?"

Bard mengatakannya perlahan-lahan. "Dan sebuah celana yang kebesaran sehingga aku harus kembali ke butikmu untuk membeli sabuk."

"Nah ... apa yang kau dapatkan kemarin untuk peran menjadi sinterklas ini bukanlah sinterklas stereotip dari masyarakat kita. Kau mengejeknya."

"Kau kehilangan satu poin di sini."

Si cewek menunjukkan gestur silakan dibantah.

"Poin yang kami tunjukkan kepada mereka adalah kami memberi kebahagiaan. Semangat kebahagiaan yang dibawa karakter sinterklas adalah yang ingin kita bawa kepada mereka. Kami bukan Grinch atau Krampus yang ingin merusak Natal. Natal bukanlah tentang sebuah perayaan atau sebuah kelahiran. Natal adalah tentang hari libur dan diskon yang membuatmu berpikir harus mengeluarkan uang untuk membeli semuanya."

Si cewek menenggelamkan tubuhnya di kursi. "Semangat. Kebahagiaan." Dia mengejanya lalu memandang Bard. "Di mana kalian akan memberikan semangat ini?"

"Penjara."

Air muka si cewek berubah. "Kau memberikan kebahagiaan di tempat di mana kesengsaraan beranak? Apa kalian ini sungguh ingin bercanda?"

Bard menggeleng.

"Kenapa tidak ke panti asuhan, sekolah yang tidak merayakan atau ... entahlah."

"Karena kami berdua berasal dari penjara yang sama. Kami ingin memberikan kebahagiaan yang kami punya. Ini adalah jalan keselamatan yang kupilih."

Si cewek tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Kau mau melanjutkannya di rumahku?" ajak si cewek.



*

"Kita memilih penjara karena selain kita berdua pernah berada di sana, semangat untuk memperoleh keselamatan bagi saudara kita yang malang itu perlu kita sebarkan di sana," jelas Alfred. "Kau dan aku. Kita akan memberi bahagia kepada tiap relung sel yang ada di penjara itu."

"Hadiahnya," kata Bard. "Boleh aku tahu hadiahnya apa?"

Alfred tersenyum lebar. "Kejutan."



*

Si cewek melingkar sambil memeluk Bard. Bard harus pergi karena dia harus melalui jalan keselamatan bersama Alfred sebentar lagi. Malam Natal kemarin dia rayakan minum soda berlebihan dengan si cewek. Malam Natal yang menyenangkan sehingga Bard sudah lupa berapa kali dia berduka di malam seperti ini. Demi tidak mengganggu cewek itu tidur, Bard melepaskan pelukannya perlahan dan menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selimut. Bard tidak mengucapkan apapun selama berpakaian dan meninggalkan rumah kontrakan si cewek.

Tadi malam Alfred meneleponnya untuk mengucapkan selamat Natal--Bard tahu itu basa-basi, dan menyuruhnya untuk mengambil paket terakhir sebelum mereka bertemu lagi di penjara. Hari ini adalah jalan keselamatan demi kebahagiaan itu akan dimulai.

Karena semua toko tutup pada hari raya, paket yang diambil membuat Bard menuju ke stasiun. Dengan muka mengantuk si portir memilah barang yang akan diambil oleh Bard. Sebuah bungkusan seberat 100 kilo dengan tinggi sepinggang Bard berada di belakang stasiun.

"Bisa membawanya sendiri?" tanya si portir. Bard mengeluarkan uang dari Alfred dan si portir memanggil dua orang temannya dan dibantu Bard mereka memasukkannya ke mobilnya. Awalnya tidak muat dan akan ditaruh di atap mobilnya. Dengan berat sebesar itu atap mobil akan penyok, maka Bard memutuskan menelepon Alfred.

"Ya terserahlah. Kita bertemu beberapa jam lagi," tutup Alfred dengan nada mengantuk. Pagi di hari libur adalah hari di mana kau harusnya masih menutup mata.

Bard membiarkan si portir dan dua temannya menunggu. Dia membuka paket dan melihat bungkusan kecil yang dilapisi kertas kado bertumpuk rapi di dalam kardus itu.

"Untuk perayaan Natal?" Portir menanyainya saat mereka memasukkan sebagian kado tersebut di dalam mobil Bard.

"Untuk kebahagiaan," sahut Bard.

Usai semua kado tersebut masuk ke mobilnya si portir sempat mengucapkan selamat natal lalu Bard meninggalkan stasiun. Dia tidak langsung menuju ke penjara. Perutnya lapar sehingga dia pergi ke makanan cepat saji memesan kentang goreng, ayam goreng dan air putih. Bard memakannya pelan di hari Natal. Semuanya tampak seperti biasa. Jalanan lengang, toko yang tutup dan kehidupan masih bermula dengan bernafas.

Di dalam mobil Bard masih mengunyah satu bungkus kentang goreng sambil menunggu jam di dashboardnya berganti. Jalanan tempat ia parkir masih sepi. Orang masih dihibur dengan televisi, terkadang lupa makanan di meja sudah basi. Radio di dalam mobilnya menyala. Lagu sendu diputar dan ia teringat lekuk tubuh pelayan cewek yang tadi malam menemaninya. Dia belum mandi sehabis kencan tadi malam. Pakaian kemarin sudah ia serahkan ke Alfred dan dia hanya menunggu Alfred datang lalu berganti kostum. Tumpukan kado di belakang kursinya menyita perhatian. Tahanan ada begitu banyak dan kado juga ada lebih banyak. Alfred mendapat uang dari mana membeli kado sebanyak ini. Bard berpikir dia juga butuh diberi kado. Apakah Alfred akan memberinya? Apakah pelayan cewek itu akan memberinya?

"Mengambil satu tidaklah masalah." Bard menggapai tangannya ke belakang jok tapi tak sampai. "Tidak." Dia menarik tangannya kembali, "tidak boleh kalau Alfred sudah menghitung semuanya."

Untuk mengalihkan perhatian dari kado di belakang jok, Bard harus membaca. Dia mencari sesuatu di mobilnya untuk dibaca tapi tak ada satupun yang bisa ia baca kecuali cek-cek yang ada dan dia kumpulkan di dalam dompetnya. Satu persatu cek dia baca dan dia ingat kembali kejadian di mana cek itu bisa masuk ke dompetnya. Cek yang masih ada di dompetnya; struk pembayaran air mineral saat dia keluar dari penjara sampai struk yang diambil dari pelayan cewek saat dia membeli sabuk kemarin. Cek yang dia terima paling akhir adalah paket yang barusan dia ambil. Ada catatan kecil di cek tersebut.

Alfred meneleponnya. "Kau siap? Aku sedang berangkat sekarang."

"Err ... ya."

"Kadonya aman?"

Pikiran Bard untuk mengambil kado tersebut sudah hilang. "Iya."



*

Di tempat parkir penjara Alfred sudah berpakaian sinterklas lengkap. Bard keluar dari mobilnya disambut dengan pelukan hangat serta tepukan punggung.

"Selamat natal."

"Ya," sahut Bard. "Selamat juga."

"Mana kadonya?" Bard menunjuk mobil. Alfred menuju ke mobilnya dan tersenyum puas. "Kau ganti dengan kostummu di mobilku sementara aku akan memasukkan kado-kado ini ke dalam kantong."

Bard melihat di jok belakang mobil Alfred ada kostum yang diambil dari butik yang mau tutup. "Tunggu apa lagi? Ayo cepat kita sebarkan kebahagiaan di hari bahagia ini."

Bard memasuki mobil Alfred dan mulai melucuti pakaiannya. Kostum yang ia kenakan tak jauh beda dengan milik Alfred, tapi setelah ia lihat penampilannya di bayangan mobil Alfred ... dia memang berbeda. Yang ia kenakan memang kostum sinterklas, tapi jaket merah itu tak bisa dikancing--karena memang tak ada satu pun kancing, tujuannya hanya untuk menampilkan kaos bergambar pria berjenggot putih mirip sinterklas walau Bard tahu itu bukan sosok sinterklas atau santa. Celana merah yang ia kenakan ternyata pas--lalu untuk apa dia membeli sabuk?

"Mana sabuk yang kemarin kau beli?" tanya Alfred yang kepayahan menenteng kantong berisi kado-kado. Bard ingin menolong mengangkatnya tapi Alfred menolak. "Punyamu masih ada di dalam mobil. Sudah kumasukkan ke dalam kantong. Ambil sekalian sabuknya."

Kantong kado yang dibawanya memang berat sehingga dia harus berjalan membungkuk.

"Mana sabuknya?" Bard menyerahkan. "Mana topimu?" Bard memang tak memakai topi santa karena memang tak ada topi seperti itu di belakang jok mobil. Alfred masuk ke dalam mobilnya, dan menyerahkan topi santa milik Bard. Tapi itu bukan topi santa, melainkan peci berwarna merah dengan lambang palu dan arit yang dibordir. "Cocok sekali wahai kawanku pejuang kiri!" puji Alfred. "Mari kita mulai misinya." Bard melihat ada satu kado di dalam mobil Alfred. Entah tertinggal atau memang terjatuh di sana.

Di pos penjaga mereka saling bertukar tawa. Alfred yang memimpin dan meminta izin agar mereka bisa masuk. Tiga penjaga yang ada melihat kostum santa Bard dan tertawa terpingkal.

"Ya. Dia memang mereprentasikan apa yang ada di pikirannya. Seorang santa harusnya berjuang demi apapun demi kebahagiaan. Itulah jalan keselamatan yang dia pilih. Bukan begitu kawanku?" Bard hanya mengiyakan saja. Penjaga hanya mengecek kado tanpa membukanya. Saat menggeledah kantong milik Bard, seorang penjaga yang masih tertawa berbisik ke arahnya.

"Kuharap program cuci otak pemerintah bekerja. Tapi ternyata ..." dia menahan tawanya. "Kita tahu apa yang terjadi pada orang yang bernasib sama denganmu."

Mereka diizinkan masuk. Alfred meninggalkan tiga kado untuk mereka.

"Ingat. tak boleh dibuka saat ini juga. Kumohon pengertiannya karena semuanya akan kubagikan walau tidak rata tapi semua akan senang jika kita membukanya sama-sama." Tiga penjaga itu menurut dan menaruh kadonya di bawah meja pemeriksaan mereka.

"Selamat natal ... ho ... ho ... ho!"

Tiga penjaga tadi juga menirukan suara hohoho dengan nada berat disambung tawa yang keras. Bard dan Alfred berhenti di persimpangan.

"Kau ke kiri. Sebar kadomu setiap kau melihat ruangan maupun sel entah itu ada orangnya atau tidak. Kado yang kita beri tidak untuk setiap orang. Untuk para penjaga depan biarkan, anggap saja sebagai sogokan. Aku akan ke kanan menuju kantor sipir dan kepala sipir. Usai kau menyebarkan kado ... tunggu di aula. Kita akan memberi semacam wejangan untuk mereka. Agar semuanya ikut dengan kita. Tunggu di sana dan jangan ke mana-mana."

"Oke." Alfred menepuk pundaknya.

"Mari mulai."



*

Bard menyusuri lorong penjara dan menemui satu ruang di mana para penjaga berada. Dia tersenyum dan mengucapkan selamat natal sambil menyerahkan satu kado dan berniat masuk ke dalam lorong sel untuk memberikan kado kepada setiap tahanan.

"Sudah ada izin dari kepala sipir?" Bard menengok ke belakang, tapi memang Alfred tidak memberitahukan bahwa untuk keluar masuk di area penjara memang membutuhkan izin dari kepala sipir.

Suara lagu-lagu natal terdengar melewati speaker di seluruh penjara. Bard tersenyum dan menunjuk jarinya ke atas. Penjaga paham dan memberikannya izin dan menemani dia untuk menyerahkan kado. Para tahanan bersorak di dalam sel saat Bard menyerahkan setiap sel satu kado.

"Selamat natal! Dan jangan dibuka sebelum waktu istirahat," kata Bard di setiap sel yang ia beri kado. Penjaga yang mengawalnya membentak ke tahanan yang kelewat kurang ajar ke Bard.

"Biar sini kubagikan kadomu santa!" teriak salah satu tahanan di dalam sel.

"Aku butuh wanita bukan kado!" teriak yang lain saling bersahutan sehingga lorong yang terdapat setidaknya 12 sel, 6 sel di kanan kiri menjadi riuh.

"Maaf. Aku hanya bisa membagikan ini. Aku bukan sinterklas. Selamat natal. Jangan dibuka sebelum waktunya tiba." Bard terus mengucapkannya ketika penjaga yang mengawalnya memukul pintu sel agar tahanan diam. Tapi di sisi lain penjara juga terdengar keriuhan sehingga para penjaga kini harus menjaga dua imitasi santa membagi-bagikan kebahagiaan.

Kantong kado Bard terasa berkurang dengan hilangnya 12 kado dan masih ada sekitar 20 kado lagi. Dia meminta para penjaga mengawalnya demi keselamatan karena dia seorang bekas tahanan yang kini menjadi pengunjung. Di lorong sel lain, Bard kembali disoraki. Dia hanya tersenyum dan mengucapkan selamat natal bagi semuanya.

"Persetan Natal!"

"Aku penyembah iblis!"

"Keluarkan aku! Aku dapat remisi!"

Teriakan demi teriakan seperti monyet yang baru mendapatkan jatah makan. Kejadian ini memang jarang terjadi, bahkan sewaktu Bard masih menjadi tahanan, jadi dia biarkan saja teriakan itu sebagai elukan yang membahagiakan.

"Jalan keselamatan adalah jalan demi kebahagiaan." Kata-kata Alfred terngiang di kepalanya dan ia ingin segera bagi kado ini berakhir sehingga dia bisa melihat para tahanan bahagia dengan kadonya.

Lorong sel terakhir yang Bard kunjungi adalah lorong sel yang pernah ia diami. Tak heran beberapa tahanan yang mengenalnya berteriak jauh lebih kencang dengan membuat keributan sehingga para pengawal terpaksa diam saja di ujung lorong jalan masuk.

"Komunis telah kembali!"

"Santa seorang komunis!"

"Hidup komunis!"

Pujian itu membuat Bard melambung. Tak heran beberapa sel yang dia kenal siapa tahanannya dia berikan dua kado. Entah jumlah kado yang ada di kantong Bard semakin menipis, ia tak peduli. Semuanya berhak mendapat kebahagiaan.

"Selamat natal dan jangan buka sebelum waktu istirahat," Bard tak lelah mengatakannya.

"Hei komunis! Bagaimana rasanya bebas?!" tanya seorang tahanan. Bard mengenali tahanan tersebut adalah yang ditangkap karena memasang penguat sinyal dan pencuri layanan tv kabel. Bard menjabatnya dan memberikan kado.

"Menyenangkan kecuali mereka masih mengawasimu. Semoga kado ini membuatmu menuju jalan keselamatan dan kebahagiaan. Jangan dibuka sebelum istirahat."

"Bulan depan aku bebas! Kita bisa minum bersama dan hancurkan pemerintah!" teriak si tahanan saat Bard menjauh dan menjawabnya dengan lambaian.

Kantong kadonya sudah habis dan dia sudah berada di ujung lorong. Bard mengatakan pada pengawalnya.

"Pastikan mereka tidak membuka kado tersebut atau kepala sipir akan memarahi kalian." Para pengawal tersebut paham dan kembali memasuki lorong untuk menenangkan para tahanan. Bard terasa lelah namun bahagia karena tugasnya selesai. Kini tugasnya menunggu dan dia berjalan menuju tempat yang disuruh Alfred sambil menunggu Alfred datang. Masih ada waktu sebelum istirahat jadi Bard memilih menikmati penjara itu untuk terakhir kalinya.



*

"Ah ternyata kau Alfred!" sapa kepala sipir saat melihat Alfred masuk ke kantornya. "Aku pikir kau akan bohong. Kau membagikan kado untuk tahanan ini? Betapa mulianya dirimu."

"Dirimu juga pak. Aku senang membuat mereka bahagia di hari spesial ini," jawab Alfred.

"Tak semua dari mereka merayakan hari raya ini bung. Mereka senang karena mendapatkan kado dan remisi. Sayang belum ada yang bebas di hari ini. Besok waktu tahun baru ada sekitar tiga tahanan bebas." Kepala sipir berbicara sambil menandatangani berkas.

"Menyenangkan sekali." Alfred masih berdiri di dekat pintu. Kepala sipir mendongak.

"Duduklah. Untuk apa kau di situ. Tutup pintu. Kau bagian dari penjara ini Alfred. Siapa yang membantumu kali ini? Anakmu yang lain?"

Alfred menggeleng sambil tersenyum. "Pemuda komunis."

"Ah dia ... bagaimana programnya?"

Alfred mengangkat tiga jari dan jari telunjuk serta jempol membentuk lingkaran. Kepala sipir tersenyum.

"Pemerintah terlalu baik untuk orang pintar seperti kita Alfred," kepala sipir menyingkirkan berkasnya, "mereka selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dan terlalu banyak orang bodoh di luar sana salah menangkap apa yang mereka inginkan atau butuhkan. Pemerintah sudah memberi itu semua kepada mereka, tapi nafsu manusia tak pernah padam ketika embun pertama menetes ke atasnya. Bayangkan orang-orang semacam ini akan berakhir di sini. Para pendosa ini memang harusnya dihadapkan kepada tembok. Kepala dan pikirkan mereka harus berbenturan dengan tembok keras agar mereka tahu mereka telah berbuat salah. Hukuman kematian bukanlah jalan terakhir, kecuali tindakan pelanggaran berat, kecuali untuk mengurangi populasi. Dunia ini penuh populasinya. Dengarkan aku sebentar bung ... orang dari kota lain mencari nafkah di sini. Apa-apaan ini? Apakah di tempat mereka tak ada tempat lagi sehingga harus membuat para pendosa itu kemari?"

"Aku tahu," kata Alfred kalem. "Aku tahu. Menurut Anda apakah Anda sudah menjalankan semuanya?"

"Menjalankan semuanya apa?" Kepala sipir membuka bungkus rokok, menyodorkan kepada Alfred tapi dia menolak.

"Tugas pemerintah."

Kepala sipir tertawa dengan asap muncul di mulutnya. "Kalau aku tidak bekerja dengan benar, aku tak akan bisa menerima gaji. Aku ini seorang pembangkang taat aturan walau aku harus membuat aturan itu harus sedikit longgar untukku. Contohnya penjara ini." Dia mengetukkan abu, "Aku tak membuat peraturan untuk penjara ini. Tapi di dalam penjara siapa yang kepala? Pusat dari semua aktivitas berjalan? Aku! Tentunya aturan penjara berbeda dengan aturan sang kepala. Aku tak menaati peraturan dari pusat tapi untuk mengondisikan semuanya agar berjalan dengan baik, aku adalah pilihan tepat untuk itu."

"Aku percaya demikian. Andalah pilihan tepat. Hanya apakah semuanya menyetujui hal tersebut?"

Kepala sipir memincingkan matanya. "Menurutmu apakah ada yang tidak setuju?"

"Aku sudah pernah di penjara. Aku di penjara karena tindakanku dan aku membantu penjara ini juga. Apa Anda pikir aku tidak mendengar suara-suara ini?"

"Kepala tak akan terganggu dengan hal remeh semacam itu." Ada nada meremehkan di nada bicaranya. "Lalu kau bawa apa untuk natal kali ini? Kau tidak cuma berpakaian orang tolol seperti itu saja bukan?"

"Oh tidak. Aku punya hadiah spesial untuk Anda sendiri. Yang lain hanya mendapatkan yang ... biasa." Alfred melirihkan kata terakhirnya sebelum mereka berdua terkekeh bersama.

"Aku suka yang spesial. Seperti ... anak tirimu."

"Ah ya. Sayangnya ini berbeda seperti dia."

"Kuharap aku tidak menyinggungmu."

"Sama sekali tidak. Tapi maukah kau menerima hadiah spesial dari ku?"

"Tentu. Mana?"

Alfred belum memberikan apa-apa. "Sebelumnya aku ingin bertanya, apakah Anda sebagai kepala sudah merasa diselamatkan?"

Kepala sipir mendengus. "Aku tidak perlu diselamatkan. Akulah sang penyelamat itu sendiri. Kita sudah membicarakannya di awal. Kepala adalah segalanya di sini."

"Oh maafkan aku. Tapi keselamatan ini tidak akan memengaruhi Anda sebagai kepala."

"Aku tak peduli. Kau tahu kenapa mereka memperingati hari natal?" Alfred mengangguk. "Konsepnya seperti aku. Akulah sang juru selamat itu."

Alfred mengatupkan mulutnya dan diam beberapa saat.

"Aku tidak memperingatinya tapi kupikir konsep juru selamat untuk pegawai pemerintahan rendah seperti ku. Dengan tunjangan hari raya yang tak bisa buat mencicil rumah baru tapi juru selamat bagi penghuni penjara ini. Aku bukan seorang nabi."

"Aku tahu. Jadi maksudnya Anda adalah seorang pengadil yang tepat bagi seluruh penghuni ini."

"Tentu." Seringai kepala sipir kian melebar.

"Tapi juru selamat di natal ini baru dilahirkan. Apa Anda mau dilahirkan kembali?"

Kepala sipir tak suka dengan nada perkataan Alfred dan terhenyak dari kursinya.



*

Bard menunggu lama. Pikirannya sedang berkecamuk membuat pilihan. Satu keputusan membuatnya harus kembali ke mobil. DI penjaga luar, kado masih belum dibuka. Bard tersenyum kepada para penjaga tersebut.

"Kenapa santa? Ada yang ketinggalan?" tanya seorang penjaga.

"Butuh udara segar dan rokok. Aku tidak ingin membuat teman-temanku iri dengan rokokku maka aku akan di mobil sebentar."

Penjaga membiarkan dia pergi ke mobilnya dan tak ada rokok di mobil Bard. Di saat gelisah seperti ini yang dia ingat hanyalah senyum pelayan toko itu sementara dia masih mengira-ngira bau tubuh si cewek. Matanya beradu dengan jam di dashboard. Alfred akan menemuinya di aula sebentar lagi dan dia tidak siap.

"Bajingan!" Bard membenturkan kepalanya di setir. "Lakukan sesuatu!"

Bard merasa tak punya pilihan sementara jam semakin mepet. Alfred orang yang tepat waktu. Dia tak suka menunggu sehingga keputusan yang dibuat Bard menentukan apakah senyum pelayan itu akan ia lihat atau tidak. Sementara di jok mobilnya Bard melihat satu kado tergeletak sendirian seperti tercecer.

"Sial ...."



*

"Apa yang kau lakukan!"

"Ini jalan keselamatan. Terimalah!"

"Hentikan perbuatanmu atau kau akan masuk penjara dan kali ini kau tidak akan keluar hidup-hidup! Kubuat kau merana!"

"Aku sudah merana. Kau yang membuatku seperti ini. Kau menghancurkan hidupku dan ... anak tiriku."

"Apa yang kau katakan?!"

"Kau menularkan penyakit kelamin ke dia dan membuatnya harus menjauh dari ku selamanya! Kau pikir selama aku menyayanginya, tak akan pernah  bisa dinding sel penjara membatasi kami! Kini kau sudah memberikan benih maut! Kau masih berpikir dirimu sebagai juru selamat?!"

"Hentikan sekarang juga!"

"Tak bisa. Kau akan bahagia dengan jalan yang akan kita tempuh. Kau menyukai anak tiriku? Aku juga. Kita lihat siapa yang akan senang dia temui di alam baka sana."

"PENJAGAAAAA!!!"



*

Bard melihat semuanya dari spion. Penjara itu hancur berkeping-keping. Tanah yang ia pijak bergetar tapi dia terus melaju. Setelah kado terakhir—berada di belakang jok mobilnya, yang berisi bom dia taruh ke pos penjaga dan dia mengatakan akan pergi sebentar mengambil kado yang lebih banyak untuk dibagikan kepada setiap kepala di penjara tersebut, kini kepala-kepala itu sudah tercerabut dari tubuhnya yang luluh lantak akibat ledakan.

Bard masih melihat dari spionnya. Dia menyetel radio dengan tangan gemetar. Lagu yang diputar membuatnya berdendang dengan suara bergetar.

"We wish you a merry christmas ... and a happy new yeaarrr ...."



*

Bard melihat kronologinya di televisi. Pengeboman penjara diduga oleh seorang teroris yang tak pernah terungkap motifnya dan diduga kuat pelakunya juga meninggal di dalam penjara. Para penyelidik menemukan kandungan bahan peledak yang kuat sehingga mampu membuat para korbannya tak dikenali lagi dan dinding penjara runtuh. Tak ada yang selamat di tragedi natal pagi itu. Selama seminggu hampir menjelang tutup tahun, peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan karena motif peledakan penjara tersebut masih membingungkan.

"Katanya kau keluar dari penjara itu?"

"Ya."

"Karena membeli buku komunis."

"Aliran kiri."

"Lalu kau menjadi sinterklas di hari natal kemarin."

"Ya."

"Di penjara itu."

"Ya."

"Lalu bagaimana kau bisa selamat?"

"Karena aku rajin membaca."

"Kau membaca apa yang sampai membuatmu selamat dari ledakan bom tersebut?"

"Aku membaca tulisan yang dicoret di kertas cek saat aku menerima kado-kado itu. Tulisannya kecil tapi terbaca. Seperti aturan pakai di botol obat. Aku membaca apa saja dan itu membuatku selamat."

"Apakah lain kali kau mau mengajariku membaca? Aku juga ingin selamat."

"Tentu."

Bard kembali bercinta dengan cewek pelayan toko sementara di luar sana hitungan mundur menuju pergantian tahun terdengar. Suara kembang api yang meledak tak sememekakkan daripada suara bom yang menghancurkan penjara tempat seluruh pendosa itu berada. Tapi senyum wanita di depannya jauh lebih menyenangkan daripada itu semua. Hanya saja suara kembang api dan bom itu tidak membuat tuli saat si cewek berbisik kepada Bard.

"Aku positif AIDS."



06-12-2015

19:06 pm


3 komentar:

  1. wow keren kak.. infonya menarik nih.. ooo iya kak kalau ingin tahu tentang cara membuat web yukk disini saja. terimakasih

    BalasHapus
  2. Mudah ditebak tapi tetap menarik. Terima kasih sudah berkarya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama sudah meluangkan waktu untuk membaca

      Hapus

macbeth