Rabu, 01 Juli 2015

#dongengsatir PEMUDA-PEMUDA YANG MENGANCAM PUASA

Sebelumnya mungkin ini akan menjadi refleksi diri.

Kenapa tahun 2015 ini seorang Jacob Julian tidak terlalu banyak mengeluarkan karya. 
Tidak. Jacob Julian masih berkarya tapi sudah bukan media tulisan lagi. Dan demi menuangkan ide dalam bentuk tulisan maka tulisan ini muncul.
Jacob Julian mengatakan bahwa tulisan cerita pendek ini dia tulis karena dia ingin blog ini tidak terlalu mati. Toh juga jarang ada pengunjung. Mana ada yang mau mengunjungi blog sepi dan membaca buku Jacob?

Kisah dalam #dongengsatir kali ini memang bertepatan dengan bulan puasa. Cerita di dalamnya murni dongeng. Jadi bila ada yang merasa terhina dengan tulisan ini silakan komentar sebanyak-banyaknya.
Bila menemukan kesamaan dengan #dongengsatir sebelumnya ... itu hanya universe yang dibuat Jacob bisa dibilang multi-verse.

Selamat menikmati dongeng ini dan blog ini akan diusahakan tetap berada eksistensinya.

ps: ilustrasi cerpen ini juga dibuat Jacob
ps: ilustrasi lainnya bisa dilihat di sini.




PEMUDA-PEMUDA YANG MENGANCAM PUASA
silly-silly, gimme potty




 Rokok keretek yang masih terbakar itu dihisap pelan-pelan. Asap dia biarkan mengikuti angin. Kayuhan sepeda lantas tak meningkat walau matahari menyengat. Aspal memantulkan cahaya matahari tepat ke mata sehingga fatamorgana terjadi tepat di hadapannya. Lagaknya tetap santai. Ini bulan puasa dan tak ada yang menegurnya merokok walau melewati jalan umum pedesaan. Kulit hitamnya mengilat mengeluarkan keringat. Dia mau cepat sampai ke tempat pengairan sawah. Belum sempat dia berbelok dibalik semak-semak gajah, sebuah bogem mentah melayang mengenai pelipis. Giginya menggigit kuat-kuat keretek agar tak jatuh. Naas, tubuhnya justru oleng sehingga pasir kerikil ditambah berat sepeda menimpa tubuhnya. Kepalanya pening dan semua pikiran tentang sawah, istri, selingkuhan dan utang-utang pun ambyar. Gelap di sekitarnya membuat ia pingsan.
"Tetap diambil?"

"Nggak usah bacot. Bawa saja!"

Dua suara tadi tak dia hiraukan karena pikirannya kosong. Dia terbangun dengan tubuh penuh peluh. Sekitarnya mulai menggelap saat matahari sudah memudar. Berada di bawah pohon rindang membuat dirinya begitu menikmati tidur, ditambah suara jangkrik dan aliran sungai yang mengalir tak jauh dari situ. Namun kepalanya masih sakit. Ia ingat bahwa dia harusnya tak beristirahat di situ. Dia tadi masih naik sepeda. Kereteknya tadi masih panjang dan menyala kini sudah pendek, mati dan berasa aneh di bibirnya. Dia meludahkan sambil mencari sepeda tuanya. Menjadi korban begal di bulan puasa sungguh bukan nasib yang baik. Saat adzan mulai berkumandang kemudian dia baru ingat bahwa dirinya masih selamat dan langsung berucap doa.

“Allahuma lakasumtu wa bika amantu wa'ala rizkika aftartu birahmatika ya arhamarrahimin ....”



*

Dua pemuda tadi segera melarikan sepeda hasil begal ke kecamatan sebelah. Mereka tidak benar-benar berlari karena sepeda itu mereka tumpangi bersama. Si pengayuh terlihat waswas sementara si pembonceng terlihat lesu namun bukan karena puasa. Dia tidak terima bahwa rencana awal mereka adalah mencuri sepeda motor siapa pun yang lewat di tempat mereka bersembunyi tadi berubah. Karena tak ada yang lewat, mereka memutuskan merampok apapun yang lewat walau itu berupa cikar atau sepeda roda tiga. Kini hanya sepeda tua reyot yang jerujinya berbunyi setiap digenjot. Jarak antara TKP dan tempat mereka menjual sepeda itu di kecamatan sebelah tak sejauh tempat pipis dan neraka. Percayalah... ini ungkapan yang biasa kau dengar dari corong menggelegar tiap hari Jumat.

Perjalanan itu memakan waktu dua jam. Tujuan mereka hanya sebuah pasar kecamatan karena tentu saja mereka tak bisa menjual sepeda itu di jarak 20 km dari TKP karena pasti tentu ada orang yang mengenali sepeda itu punya siapa lalu mengapa sekarang mereka yang bawa. Sedang di pasar pun, yang mau melayani mereka hanya tempat penggilingan kelapa.

"Kami baru saja ditipu. Ini harta kami. Kami mau pulang. Tak ada ongkos buat buka puasa dan naik bus. Seikhlasnya bapak saja."

Yang disebut bapak diam saja. Melihat tampang pemuda-pemuda ini mereka tak punya bakat menipu atau mengancam.

"Sudah ke kantor polisi?" tanya bapak itu.

"Sudah. Mereka hanya memberi berkas. Nanti mungkin akan kami serahkan ke kantor polisi kecamatan kami."

"Mana suratnya?"

Yang menjawab adalah pemuda pengayuh sepeda. Dia menengok ke pemuda satunya yg membalasnya dengan tatapan kosong.

"Mana?" tanya pemuda itu.

"Apa?"

"Suratnya."

"Surat apa?"

"Pasti kau hilangkan lagi. Sudah uang kau hilangkan. Semua kau hilangkan pula! Kenapa kebodohanmu tak kau hilangkan juga!" Pemuda itu lantas berpaling ke bapak yang sekiranya akan memberi uang atas sepeda hasil rampokan ini. "Teman saya memang begitu. Mohon maafkan kami. Sekiranya bapak tak mau membantu membeli harta kami ini tak apa. Semoga ada yang membalas kebaikan bapak di bulan yang suci ini." Pemuda tadi segera bergegas tapi bapak tadi menghentikan. Ucapan pemuda tadi benar. Kemarin malam waktu tarawih, penceramah mengatakan bahwa sudah melakukan kebaikan apa saja di bulan suci ini? Bapak tadi yakin ini adalah maksudnya. Dia mengeluarkan duit menyerahkannya pada pemuda itu selembar 50 ribuan.

"Ambil saja. Sepedanya kau bawa."

"Tapi pak ...."

"Sudahlah. Tak usah kau pikirkan ...."

"Tapi pak ...."

"Kamu benar. Kebaikan harus dilakukan di bulan suci ini. Apalagi—“

"Ini kurang pak."

Bapak itu mendelik. Diambilnya selembar uang lagi. 20 ribuan. "Sudah pergi sana. Sudah cukup buat ongkos dan makan! Jangan mubazirkan uang itu."

Pemuda tadi tak mengucapkan terima kasih langsung menuntun sepedanya pergi. Tak jauh dari pasar temannya yang dikorbankan mengeluh capek.

"Harusnya aku yang capek!"

"Kita balik sajalah. Mau buka ini."

"Naik sepeda ini? Mau digebukin warga kamu?"

"Lha terus?"

Pemuda tadi menggelatakkan sepeda tua itu begitu saja di pinggir jalan mumpung tak ada yang melihat dan menyeberang jalan, menunggu sampai ada angkutan membawanya kembali ke desa. Di angkutan temannya kembali mengeluh.

"Makanya Mat. Kalau ngambil sekalian motor bukan sepeda."

Beberapa penumpang melirik ke arah pemuda itu.

"Cocotmu Pu! Nggak usah dibahas di sini!"

Mereka pun diam. Bahkan saat turun pun diam. Tak memberikan uang kepada supir angkutan.



*

Gelas yang biasa digunakan menyajikan es teh telah menjadi gelas kopi untuk mereka berdua. Itu pun sudah tandas melebihinya setengahnya. Warung kopi ramai menceritakan tentang kasus begal yang menimpa pak Suro. Mereka kemudian mulai menyalahkan satu sama lain atas kemalangan warga desanya. Saling tuduh menuduh kemudian jauh lebih tinggi kedudukannya. Pertama warga, RT, RW, Kades, lurah, camat, walikota, gubernur, menteri, presiden, filsuf sampai yang paling atas sendiri.

"Ini bulan suci. Kalau maling-maling itu sudah sampai ke sini, berarti kurban kita pas bersih desa itu nggak sampai sama mbah leluhur!"

"Lha katanya ibu-ibu PKK sudah ziarah ke makam wali. Pasti ada yang pulang bawa tanah makam wali, makanya apes."

“Atau nggak ziarahnya pas lagi datang bulan ....”

Spekulasi semerbak ditambahi singkong goreng. Warung semakin ramai saat para pria baru pulang tarawih. Mereka membuat grup sendiri-sendiri. Ada yang membicarakan tentang begal, tentang kotbah yang barusan mereka ikuti sampai kaki kesemutan dan ada yang memulai memutar gelasnya. Sementara suara tadarus terdengar lamat tertiup angin.

Dua pemuda, Mat dan Pu tetap diam. Hanya mereka yang duduk berdua dengan kopi sementara bau minyak sisa singkong goreng sudah diganti bau spritus campur soda. Pu berbisik.

"Lalu bagaimana? Kita pakai duit dulu yang tadi?"

"Jangan! Duit hasil amal jangan pernah kita gunakan dulu."

"Lalu apa? Mau begal lagi? Kan sudah kubilang lebih baik nyolong motor."

"Cocotmu! Nggak usah berisik! Kamu mau mereka tahu kita pelakunya?!"

Pu beringsut tapi pengaruh spritus sudah merasuk ke setiap insan di warung ini.

"Kita harus gunakan uang tadi untuk mendapatkan duit yang lebih besar."

"Caranya?"

Mereka terdiam. Pu kemudian melontarkan ide.

"Kita buat judi saja. Orang mabuk biasanya goblok. Kita bisa tipu!"

"Aku nggak mau pake duit haram! Jangan judi!"

"Beli nomer?"

"Nggak!"

"Taruhan bola?"

"Sudah selesai!"

"Trus? Ya sudahlah kita pakai duit ini."

"Nggak selama kita masih bisa mikir duit ini bisa jadi duit lain yang lebih besar!"

"Ikut MLM?"

Pemuda Mat tetap tidak menyetujui ide pemuda Pu. Maka saat diam dan ada petasan meledak lima kaki dari mereka, mereka misuh-misuh disertai suara tawa para bocah. Tentu saja hanya mereka yang misuh karena yang lain sudah memasuki alam kata2. Terlalu berisik warung ini sampai menenggelamkan suara Eny Sagita yang keluar dari speaker sember di ujung ruangan.

Mat tersenyum lebar. Seakan baru saja ada yang membisikkan ide luar biasa untuknya. Dia menarik Pu keluar dari warung yang akan tutup dan buyar saat suara imsak bergema dan sebelum para jamaah alkoholiyah ini bergelimpangan dengan muntahannya sendiri.



*

Mat menyerahkan 70 ribu tadi ke pria yang menatap layar hapenya. Setelah melirik uang yang diberikan, pemuda itu berkata sambil mengetik.

"Dapat yang besar dua dan yang kecil tiga."

Namun yang dimaksud bukan mau Mat.

"Aku maunya mercon! Petasan! Bukan kembang api! Syuuut dor ... ini!" Gertak Mat.

"Semua udah disita polisi."

"Tapi anak-anak tadi ada yang main!"

"Oh itu ... beli di kecamatan sebelah," jawab penjual lempeng.

"Mat ... buat apa toh kok beli petasan. Udah ... nggak usah. Kita nggak butuh. Mending uangnya—“

"Ya udah. Aku maunya yang besar tiga yang kecil empat."

"Nggak bisa," sahut penjual tetap mengetik.

"Ya udah." Mat mengambil barang yang dia inginkan sementara penjual seperti tak mau tahu selain layar di hapenya.

"Ada korek Pu?"

"Aku udah lama gak ngerokok."

"Ya udah ambil lagi aja."

"Duitnya?"

"Ambil goblok! Bukan beli."

Maka Pu paham maksudnya. Dia berjalan ke pos kamling di dekat situ. Tata letak desa ini sungguh berdekatan seperti tempat pipis dan neraka. Berhubung ada pemuda-pemuda lain yang merokok di situ, Pu berlagak di depan mereka.

"Pinjem koreknya."

Mereka menyerahkannya pada Pu dan dia tak akan pernah mengembalikannya lagi. Pemilik korek hanya bisa melihat koreknya menjauh.



*

Mat bergegas diikuti Pu ke pinggir desa mereka. Beruntung jaraknya pinggir desa di mana jalan beraspal yang sering dilewati kendaraan besar itu dekat dengan tempat mereka tadi membeli kembang api sedekat tempat pip—sudahlah. Tujuan Mat adalah ke pom bensin yang hampir tutup malam ini. Sementara Pu dari tadi belum paham tujuan Mat.

"Mat ... kenapa harus semua uangnya kamu belikan kembang api? Kamu bukannya dapat uang tapi bakar uang!"

"Sama kayak kamu ngerokok!"

"Tapi semua rokokku kan minta, nggak pernah beli sendiri ... kalau kamu mau main kembang api, buat apa kita sampai harus ngerampok sepeda?"

"Diam kamu! Uang dari kembang api ini jauh lebih besar! Dan semoga tak terbakar malam ini ...."

Mat dan Pu sudah berada di pom bensin di mana satu petugasnya sedang terlihat menggembok kotak kayu di dekatnya. Karena lampu sudah mati dan jarang ada kendaraan lewat malam hari, pom bensin itu dinyatakan tutup. Petugas tadi melihat Mat mengacungkan kembang api dan korek.

"Serahkan uang yang ada di situ atau pom bensin ini bakal meledak!" ancam Mat. Pu sadar dan melakukan hal serupa tanpa koreka api.

Petugas tadi cuma berkata, "Pom bensin sudah tutup."

“Serahkan duitnya atau ...”

“Atau apa? Kalian mau kusemprot pakai bensin? Sudahlah nggak usah ancam-ancam mau ngerampok segala. Pergi daripada kulaporkan ke polisi.”

Melihat petugas pom bensin malah balik menantangnya, Mat segera menyalakan korek apinya. Geretan itu macet dan api tidak kunjung menyala.

“Bodoh kamu! Mau bakar kita di sini! Sekali lagi kamu nyalain korek, aku siram bensin!” seru petugas itu tak takut. Dia mengambil selang pompa bensin dan mengacungkan layaknya pistol.

“Kami nggak akan pergi sampai dapat uang!”

“Dengan bakar pom bensin ini?! Bah! Kamu mau jadi buronan? Tahu ini pom bensin milik siapa?! Kamu tahu yang jaga duit bensin ini siapa?! Ini milik negara! Sudahlah ... jangan goblok jadi orang. Pulang saja. Makanya kalau buka puasa jangan banyak makan gula! Susah mikir kayak kalian.”

“Kami minta uang demi tujuan mulia!” kata Pu. “Jadi kalau kamu mau sekalian dapat pahala, mending serahin uangnya!”

“Di mana-mana ... namanya uang hasil curian itu haram!”

“Hahaha! Kelihatan kan yang goblok siapa!” tawa Mat. “Uang itu tidak akan haram kalau yang kita lakukan berikutnya adalah tindakan terpuji. Jadi kamu paham sifat amal tidak? Kalau kamu membantu kami yang berbuat baik walau dengan cara seperti ini, niscaya kamu akan mendapat pahala sampai kelak kamu mati.”

“Semprul! Ajaran siapa itu!” Petugas pom mulai geram. Dia sudah melewatkan waktu tarawihnya untuk menjaga pom dan kini dia ingin segera pulang segera beristirahat agar bisa makan sahur bersama keluarganya. Dua badut ini harus segera dia usir. Lampu pom sudah mati walau generator pompanya belum dia matikan. Uang di kasir dia bawa di kantong yang berada di depan perutnya. “Pulang atau aku laporkan kalian ke polisi!”

“Kami tidak takut polisi! Kami hanya takut dengan yang di atas!”

Mat dari tadi  sudah melihat tas compang-camping di perut petugas pom itu. Pu sedang kosong hanya mengancam dengan kembang api tanpa korek. Lampu pom bensin sudah mati, jadi bensin tidak akan keluar dari selang itu.

“Pu! Ambil duitnya di tas itu!” suruh Mat. Pu melihat tas itu segera dipindah posisinya oleh petugas. Pu tak ingin dianggap goblok bertindak cekatan. Terjadi tarik menarik antara dirinya dan petugas sebelum bensin keluar dari selang itu dan mengenai mata Pu.

“Arrgghh!” jerit Pu memilukan.

Matanya pedih. Mat tak tega melihat temannya kesakitan maka dia berbuat nekat. Dia harus merampas tas itu. Dia masih mencoba menyalakan koreknya. Petugas melihat api menyala dan Mat sudah menyalakan sumbu kembang api. Yang ada di pikiran petugas itu adalah mematikan nyala api di korek. Salah satunya adalah dengan air. Refleksnya cepat tapi salah. Dia keliru mengira bahwa dia tidak sedang memegang selang air tapi bensin. Nyala api semakin berkobar. Awalnya mengenai Mat, lalu menyambar cepat Pu sebelum kembang api yang keluar menuju mata petugas pom bensin dan bensin yang keluar semakin deras. Ledakan besar menghentikan seluruh kegiatan malam itu. Tidak ada awan berbentuk jamur yang terbentuk dari ledakan itu tapi setidaknya tiga nyawa terbuang sia-sia di bulan puasa.



*

Beberapa hari sebelumnya ....

“Sungguh ... kata ulama tadi benar adanya.”

“Apa Mat?”

“Kamu nggak mendengarkan? Aduh Pu ... kamu ini calon-calon masuk neraka!”

“Nggak mau Mat! Aku nggak mau masuk neraka. Aku sudah miskin Mat. Aku mau kaya setidaknya bisa mewah kelak di akhirat.”

“Maka dari itu kita harus mengamalkan kata ulama tadi.”

“Harus itu Mat. Ini bulan suci Mat. Setidaknya kalau berbuat baik kita bisa—“

“Sshh ... mau berbuat baik tanpa sedekah itu percuma.”

“Kok bisa Mat?”

“Kita sudah berbuat baik. Tapi kenapa kita susah sampai sekarang? Kita kurang sedekah!”

“Mau sedekah apalagi? Kita nggak punya apa-apa.”

Mat meringis.

“Kamu nggak punya apa-apa. Tapi aku punya ini ....” Dia mengetuk jari telunjuk ke arah kepala.

“Kalau kamu nggak punya kepala, kamu mati Mat.”

“Jadi orang kalau sudah miskin ya jangan bodohlah. Sekarang kamu mau ikut aku sedekah nggak?”

“Caranya? Kan kita miskin.”

Mat menurunkan suaranya. “Kita ambil milik orang lain.”

“Mencuri Mat?”

“Hush! Nggak! Kita ambil paksa. Itu beda dengan mencuri. Orang yang kehilangan karena dicuri jauh tidak ikhlas ketika kehilangan karena diambil paksa. Contohnya semisal pacar. Jauh lebih berdosa menikung pacar teman daripada kita ambil paksa pacar orang lalu kita setubuhi dan nikahi. Prinsipnya sama dengan itu. Kita ambil barang orang sepengetahuan orangnya, lalu dijual barangnya! Uangnya kita kumpulkan baru kita sedekahkan. Dengan uang yang kita sedekahkan sudah pasti amal kita akan dicatat!”

“Betul juga Mat. Kalau kita ambil barang yang besar saja. Jualnya juga hasilnya besar. Amal juga besar.”

“Tentu! Walau miskin jangan lupa kita punya akal untuk bersedekah. Mumpung ini bulan suci.”

“Kita mulai kapan Mat?”

“Besok saja.”

“Oke.”

Mereka kemudian larut dalam angan sembari bertukar ide apa yang mau diambil. Warung tempat mereka itu sudah beraroma alkohol yang penuh dengan orang-orang yang berpeci dan bersarung. Jamaah alkoholiyah sudah berkumpul demi mendekatkan diri kepada sang pembuat alkohol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

macbeth