Jumat, 19 Desember 2014

#dongengsatir MEMBAKAR NATAL

Pada libur Natal yang dingin dan juga panas di berbagai daerah--mungkin karena bencana alam, saya menuliskan sebuah dongeng satir tentang Natal. Biasanya dengan menggunakan hashtag #dongengsatir di Twitter, kini saya mencoba menulis dongeng satir yang agak panjang. Temanya tentang Natal yang berbeda dan sedikit terinspirasi dari sebuah lagi juga perasaan saya tentang Natal itu sendiri. Khususnya Natal yang terlalu monoton di kehidupan saya ini ....

Mari lupakan tentang dilarang mengucapkan Selamat Natal di Indonesia. Cerpen saya kali ini jauh lebih syahdu daripada kisah di negara ini. Anda sekalian boleh tidak mengucapkan Natal pada yang merayakannya. Menganggapnya kafir, mengharamkannya atau apalah, tapi karakter saya di sini lebih unggul dari kalian yang tidak mau mengucapkan Selamat Natal karena dia sanggup membakar Natal lebih daripada kalian yang percaya dan hanya berkoar bahwa Natal itu haram.

Silakan membaca cerpen saya ini. Dan cari tahu untuk apa dongeng satir ini diberi judul "Membakar Natal".

Anda bisa mengunduhnya di sini.

Selanjutnya ... silakan bersenang-senang. Terlebih saya mau mengucapkan selamat natal bagi yang merayakan dan membaca blog/cerpen ini.


Merry Christmas, You Filthy Animal ....


NB: Anda bisa berkomentar tentang link download yang rusak, cerpen yang tidak bagus, buku Jacob yang sudah terbit atau tentang apa saja di Twitter saya atau di kolom komentar.

NB: bagikan kepada siapa pun yang percaya bahwa tulisan yang menarik itu layak dibaca. Atau dia kesepian dan butuh hiburan. Atau dia juga membenci Natal. Juga kesepian





(Cerpen Membakar Natal akan di posting pada tanggal 25 Desember 2014 di blog ini.)



Oly bosan menjadi bocah biasa saja. Desember ini dia ingin menjadi anak yang paling nakal yang pernah ada di manapun. Dia tidak ingin Santa Claus memberinya hadiah sebagai ‘bocah paling diam dan membanggakan orangtuanya’ lagi. Dia ingin dikurung di dalam karung yang dibawa oleh Piet Hitam. Dia ingat temannya dulu pernah menangis sambil menjerit begitu Piet Hitam menggendongnya dan hendak memasukkannya ke dalam karung. Toh pada akhirnya sang Santa gendut itu datang untuk menolong sambil mendengar perjanjian bocah nakal itu agar menjadi baik selama tahun ke depan.
“Semuanya itu bohong. Aku tahu pemeran Santa Claus dan Piet Hitam itu adalah mahasiswa. Aku pernah melihat mereka mendorong troli di bagian minuman keras. Pula mereka tak mungkin mengawasi kita selama setahun ini untuk berbuat baik atau jahat!”
“Dan lagi,” tambahnya, “Natal itu membosankan.”
“Kau tetap tak bisa begitu Oly. Mereka tetap saja utusan Tuhan yang baik hati. Mereka memberi hadiah pada anak baik. Kau tahu si George? Dia tidak diberi hadiah karena perbuatan jahat dan baiknya seimbang,” ujar Malene sambil merapikan poni dan pita rambutnya.
“Itu benar. Aku tahu mereka tak akan melihat selama tahun. Berdasarkan kalkulasi, di kota ini hanya ada beberapa titik yang ada CCTV nya. Di sekolah-sekolah ada beberapa tempat juga. Dan mereka tak akan menghabiskan waktu memandangi rekaman apa yang kita perbuat setiap hari,” kata Ville.
“Nah apa yang kubilang. Ini semua omong kosong. Mereka tak mengawasi kita sepanjang tahun. Mereka tak punya satelit kasat mata yang terbang di atas sekarang dan Santa gendut itu tak sedang mengamati kita di kutub utara.” Oly mengangkat jari tengahnya ke angkasa.
Ville mencoba menurunkan tangan Oly. “Tapi mereka punya mata-mata! Astaga Oly ... kau ini kenapa?”
“Aku ingin membakar Natal. Aku mau menjadi nakal dengan sadar.”
“Kau gila!”
“Aku ingin kalian ikut aku.”
“Kau jangan pernah merusak Natal yang indah, tuan Oliver!” Malene memandanginya dengan tatapan jijik. “Aku tetap mau merasakan damai Natal.” Dia lalu pergi.
“Kau?” Oly menatap Ville.
“Maaf ... aku tak ingin merusak suasana Natal ini. Aku sudah meminta orangtuaku agar membelikan video game terbaru.”
Begitu kedua temannya menjauh, Oly mengangkat jari tengahnya ke arah kedua temannya sambil berteriak, “Pengecut!”
Dia sendirian sekarang dan siasatnya untuk membakar Natal semakin gencar.
Oh my God, it's here, this awful time of year
How I hate the snow is falling
Wealthy neighbors bragging about the gifts they're getting
And then, I had a revelation!
This is my chance to sew their lips clean shut with fear

***
“Jadi Oliver. Ini Desember dan kau belum mengatakan apa yang kau minta tahun ini kepada Santa?” kata ibunya sewaktu mereka makan malam. Ayahnya tersenyum sambil membalik koran sore. Dia menyembunyikan berita tentang penembakan gelandangan yang terjadi tadi malam di mana pelakunya belum ketahuan.
“Aku ingin jadi anak nakal.”
Ayah dan Ibunya menatapnya heran. “Kau bercanda.”
“Tidak.” Oly menyantap supnya sambil memandangi kedua orangtuanya. “Aku ingin jadi anak nakal Desember ini dan aku tidak ingin hadiah dari Santa.”
Ayahnya meletakkan korannya. “Kau kenapa? Apa ada masalah di sekolah?”
“Tidak. Temanku membosankan dan mereka selalu mengatakan akan membeli kado ini, memberikan kado itu, berharap kado yang lain. Aku tidak ingin seperti mereka.”
“Ayolah sayang. Pasti ada sesuatu. Apa yang terjadi di sekolah?” Ibunya khawatir dengan sikap Oly. “Apa kau sakit?”
“Aku sehat dan aku tidak minta apa-apa tahun ini pada ayah dan ibu juga pada Santa. Aku mau jadi nakal.”
“Well ... kalau begitu kamu ingin menjadi anak nakal, maka mulai sekarang kau kami hukum.”
Oly beranjak dari meja makan. “Aku anak nakal dan anak nakal tidak mematuhi perintah. Selamat malam.” Dia berlalu saja bahkan saat ibunya memanggilnya.
“Ada apa dengannya?” Ibunya sungguh cemas tapi ayahnya melanjutkan membaca koran.
“Mungkin sedang mencoba menjadi dewasa. Biarkan saja. Besok pasti dia akan berubah.”
Namun tidak. Oly tetap ingin menjadi anak nakal sewaktu dia sarapan dengan orangtuanya.
“Ini tidak lucu Oliver. Kau akan dihukum seusai pulang sekolah!” Ibunya memarahi dengan nada tinggi dan ayahnya membaca koran sambil menyesap kopi. Selama perjalanannya menuju ke sekolah ayahnya mengatakan bahwa dia ingin makan ikan nanti malam dan bertanya pada Oly dia ingin makan apa malam itu. Oly tidak menjawab karena dia sudah kenyang setelah sarapan.
“Dengarkan ... jangan kau marahi ibumu. Dia sayang dan kau harusnya bersikap sopan.”
“Kalau ibu mau bersikap sopan, dia harusnya tahu aku tidak mau dihukum.”
“Akan kusita video gamemu selama liburan. Sekarang sekolah.” Oly keluar dari mobil dan meninggalkan pelajaran pertama untuk pergi ke perpustakaan. Penjaga perpustakaan heran melihat anak itu berada di perpustakaan.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Bisakah kau diam karena aku sedang mencari bahan untuk tugas musim dingin?” Penjaga perpustakaan itu mendelik.
“Sebaiknya kau jaga mulutmu, anak muda.” Oly hanya menatapnya lalu menjauh dari penjaga tua itu. Dia menuju ke bagian geografi untuk mencari peta geografi kotanya. Dia memandangi peta itu melingkarinya dengan bolpoin tempat-tempat yang sesuai dengan rencana yang ia susun tadi malam dan memasukkan peta itu ke dalam tasnya dan menuju ke kelas saat pelajaran kedua dimulai. Sebelumnya dia menghampiri penjaga perpustakaan.
“Apa Anda tahu tempat penjual pohon Natal?” tanya Oly.
“Tentu. Kau bisa membeli pohon Natal di pusat perbelanjaan.”
“Yang asli.”
“Kau mau pohon cemara?” Penjaga perpustakaan itu mengingat sesuatu. “Sepertinya penduduk kota ini lebih memilih untuk menanam pohon mereka sendiri. Kalaupun membeli biasanya mereka beli di tempat si tua Jack.”
“Di mana alamatnya.” Penjaga perpustakaan itu memberinya alamat dan Oly meninggalkannya dengan senyuman. Di koridor, beberapa orang tampak memasang pernak-pernik Natal sambil sesekali tersenyum ke Oly yang membalasnya dengan senyuman dingin. Di kelas kedua Ville menghampirinya.
“Bung kau ke mana saja? Tumben kau bolos.”
“Kau tahu di mana sekolah memasang hiasan Natal? Tempat-tempatnya?”
“Hmm ... mungkin di sekitar lorong, ruang guru, aula dan kantin.”
Sebelum bertanya, Oly memotongnya. “Kau tahu tempat membeli hiasan Natal?”
“Yeah. Orangtuaku biasa membeli pada bulan Januari tahun depan sesudah Natal. Karena ada diskon. Jadi hiasan Natal yang kupakai adalah kubeli awal tahun sisa tahun lalu.”
“Aku bertanya tempat membelinya, bodoh.”
“Tidak ada toko khusus. Desember ini mereka biasa menjualnya di manapun.” Oly mengangguk dan mengeluarkan buku catatan dan membuat sedikit coretan. “Kau mau membeli apa?”
“Kebahagiaan.”
Oly meninggalkan Ville dengan tatapan penuh tanya. Mereka tak berbicara sampai bel terakhir berbunyi. Oly pulang berjalan kaki dengan peta di tangannya. Dia menuju ke tempat keramaian di pusat kota dan untuk pulang dia harus naik bus umum satu kali. Dia melihat orang-orang masuk keluar toko dan membawa belanjaan. Oly menandai toko-toko tertentu. Tertentu di sini termasuk spesifik ... ada ornamen Natal di dalam toko atau di luar toko. Semakin toko itu meriah hiasannya, Oly akan membuat catatan besar di bukunya lalu pergi. Sebelum pulang ke rumah, dia mampir ke toko perkakas bangunan dan membeli beberapa barang. Seorang pemuda yang bekerja paruh waktu yang menjaga kasir heran melihat belanjaan Oly.
“Mau pesta barbeque eh?” Pemuda itu tersenyum sambil memindai kode barang. Oly mendekatkan tubuhnya ke pemuda itu.
“Kau tahu di mana membeli petasan? Besar?”
Pemuda itu tersenyum. “Kau mau memeriahkan Natal ini bung?”
“Oh tentu. Sangat meriah.”
Oly tersenyum lebar sambil mencatat petunjuk yang diberikan oleh pemuda itu. Oly memberinya uang tip atas informasinya yang berharga ini. Sebelum naik bus menuju rumahnya, Oly berjalan empat blok lalu belok ke kiri menuju ke sebuah jalan sempit yang tak terlalu gelap dan karena masih terang, dirinya tak takut akan adanya penjahat yang mencelakai dirinya. Dirinya berada di deretan toko kelontong kecil yang sepi pembeli dan Oly merasa lega, tidak ada hiasan Natal di toko-toko ini. Setelah melewati toko kelima, dirinya memasuki toko di seberang jalan. Sebuah toko tanpa pelat apapun dan ketika dibuka pintunya dia disambut oleh gonggongan anjing. Seorang pria dengan cukuran berewok tak rapi berada dibalik konter sambil mengelus anjing yang menggonggong itu.
“Apa yang kau inginkan?”
“Kembang api dan petasan.”
“Kau bisa membelinya secara legal di toko mainan.”
“Jadi di sini bukan toko mainan? Dan di sini ilegal? Wah aku bisa melaporkanmu ke kantor polisi dan kukira para informanku harus tahu siapa aku sebenarnya.” Mendengar ancaman dari Oly, pria itu hanya menaikkan alis.
“Apa yang kau inginkan?”
“Sesuatu yang besar dan meriah.”
“Kau bisa membakar tubuhmu sendiri.”
“Bagaimana kalau membakar tubuh orang lain.”
“Dengarkan aku, bocah. Aku tak sudi menjual barangku kepada anak kecil yang menggunakannya untuk bermain-main. Ini barang yang hebat. Kau tahu apa akibatnya?” Pria itu mengangkat tangannya dan melebarkannya sambil merengut.
“Ya. Tak seperti bom atom tapi aku suka itu. Kau tahu Natal sekarang ini kurang meriah. Aku ingin membuatnya terbakar.”
Pria itu memandangi Oly tanpa berkedip dan menjatuhkan anjingnya yang berlari ke pintu terdekat. Oly tak gentar pada siapa pun saat ini.
“Bawa uangmu?”
Oly mengeluarkan dua lembar kertas yang kucel. Pria itu mengambilnya dan berlalu ke pintu sambil berteriak agar anjingnya menyingkir. Tak lama, pria itu kembali dengan membawa sebuah bungkusan. Dia belum menyerahkannya pada Oly.
“Kau tak akan bicara pada siapa pun lagi di kota ini. Aku bosan dengan pelanggan baru.”
“Oh kau baru saja mendapatkan pelanggan setiamu.” Oly menyambar bungkusannya dan mengguncangnya. Pria itu berteriak, “Hentikan!”
“Hanya segini, bung? Kukira aku bisa mendapatkan lebih.” Oly meletakkan bungkusan itu dan mengeluarkan satu lembar uang lagi. “Beri aku bonus.”
Pria itu meraup uang di depannya dan menghilang lagi lalu muncul membawa dua bungkus lain yang sama. Oly tersenyum riang.
“Kau orang yang baik. Semoga Santa akan membalasmu. Selamat ... err ....”
“Pergilah.”
Oly melambaikan tangannya dan pergi. Kini tasnya penuh sesak. Untungnya tadi dia sudah menaruh semua buku pelajarannya hari ini ke dalam loker dan kini dia tak langsung pulang karena menuju ke sekolahnya lagi. Sekolah pada sore hari tak terlalu menyenangkan. Hanya ada beberapa guru yang tinggal sebelum sekolah benar-benar tutup pada pukul empat. Tapi karena ini mau mendekati liburan, maka guru-guru memilih pulang cepat. Ini masih pukul setengah empat dan masih ada waktu bagi Oly untuk bergerak cepat. Dia menuju ke lorong. Sekolahnya ada dua lorong dan dia menuju ke lorong sewaktu keluar dari perpustakaan. Perpustakaan sudah tutup sehingga dia bisa cepat melakukan apa yang harus dilakukan. Dia buka tas lalu menatap malaikat-malaikat kecil yang terbang.
“Jangan salahkan aku.”
Begitu menyelesaikan tugasnya, Oly buru-buru menuju ke tempat-tempat yang mempunyai ornamen Natal di sekolahnya berkat petunjuk Ville. Dia bekerja cepat dan tanpa sepengetahuan penjaga. Mendekati pukul empat di mana sekolah benar-benar ditutup, dia sudah berada di aula dan memandangi gua yang begitu meriah.
“Sayang sekali.”
Oly pergi melalui pintu darurat sekolah, memanjat pagar, berjalan dua ratus meter lalu naik bus untuk pulang. Ibunya sedang berada di dapur dan menelepon saudaranya ketika dia pulang sehingga Oly tak perlu ditanyai kenapa dia pulang terlambat. Begitu dia masuk di kamar dan ingin mengeluarkan barang-barang yang sudah dibeli, ibunya berteriak dari bawah.
“Aku mau keluar untuk beli bahan makanan. Kau ikut atau titip sesuatu?”
“Tidak.”
Suara tapak kaki ibunya menjauh diiringi suara menutup pintu dan mobil meraung. Oly membawa tasnya turun ke garasi. Orangtuanya mungkin akan pulang sebelum jam tujuh, maka di garasi ini dia akan mempersiapkan segalanya untuk hal yang menyenangkan. Dia taruh semua barang di meja ujung garasi dan meletakkan peta yang diambil dari perpustakaan.
“Aku perlu sesuatu yang besar.” Dia tahu ayahnya menaruh semua perkakas di sebuah kotak kayu di garasi. Tapi sebelum membuka kotak kayu itu matanya menangkap benda yang sekiranya dibutuhkannya untuk Desember ini. Awalnya Oly agak kesulitan untuk mengangkat kapak yang terselip di antara alat-alat di garasi. Begitu dia memegang dan merasakan berat kapak itu di tangannya, semua terasa lebih indah.
“Aku adalah Arthur yang menemukan Excalibur.”
Maka dia mulai bekerja.
Oh, make fun of me, will you?!
Well I'll show you what true misery feels like!
You see, as my idol once said,
Everything burns!
Hey everyone! Look outside your window! I have a surprise for you!

***
Oly sudah membereskan semua barangnya di garasi ketika orangtuanya menyuruhnya keluar dari kamar untuk makan malam. Mereka makan dengan tenang dan merencanakan sebuah liburan keluarga pada malam Natal. Ayah dan ibunya berdebat tentang pesta apa yang harusnya mereka buat dan siapa saja yang mereka undang. Perdebatan itu sangat seru sampai Oly menguap saat dia menyendok asparagus dari piring lalu pamit untuk tidur lebih awal. Orangtuanya masih debat saat sarapan sampai Oly sadar di sekolah keesokan harinya terdapat berita heboh. Ville menunggunya di depan pintu sekolah dan buru-buru menceritakan apa yang dia lihat.
“Kacau bung. Kacau!” Ville sudah mengulang kata kacau berkali-kali, menggiring Oly sampai ke lorong di mana dia melihat apa yang dia lakukan kemarin. Ornamen Natal berupa pohon cemara di lorong dia gunduli dan batang-batangnya dia buat menyerupai wajah jelek yang aneh di samping batang pohon yang gundul.
“Kau belum lihat gua suci di aula bung.” Ville langsung menceritakan bahwa ada mimpi buruk. Kalau pelakunya siswa sekolah, maka seluruh guru akan memberikan PR tambahan untuk semua murid tanpa ada keringanan. “Itu pun kalau pelakunya mengaku. Tapi ini kacau dan parah!”
Oly hanya menyunggingkan senyum melihat beberapa murid masih mengerumuni gua suci yang dia hancurkan. Dia mematahkan patung-patung di situ dan patung malaikat yang dia ajak bicara kemarin, wajahnya kini gelap seperti Piet Hitam. Oly sebenarnya hendak membakar, gua itu tapi tentu akan menambah masalah. Cukup dihancurkan secara kasar dengan sentuhan artistik berupa coretan pilox dan cat yang ngawur.
“Ini pasti ulah geng tertentu. Dan aku harap mereka kapok bila tertangkap.”
Oly menyeringai. Bahkan selama pelajaran terakhir sebelum liburan mereka di sekolah guru sudah memberi keringanan bila ada anak yang tahu siapa pelakunya dan tidak akan memberikan tugas yang banyak. Karena semua murid diam, guru tidak bisa berbuat banyak dan mengatakan bahwa sudah melaporkan masalah ini kepada kepolisian. Sebelum bel terakhir liburan berbunyi, suara kepala sekolah terdengar seantero sekolah lewat pengeras suara.
“Saya paham bahwa kejadian tadi pagi sungguh membuat sekolah ini kacau. Damai Natal dan sukacita selama sekolah ini berdiri, baru kali ini di rusak oleh tangan-tangan jahil. Maka saya selaku kepala sekolah, menghimbau kepada anak-anakku yang kukasihi bila kalian tahu perbuatan siapa ini, laporkan kepada saya. Tapi saya tahu itu akan menambah beban bagi kalian semua dan kepolisian kota sudah menangani kasus ini tapi saya sudah mengatakan tidak boleh melibatkan semua murid saya dan saya menganggap bahwa ini adalah kejadian dari orang luar. Lalu saya pikir untuk memaafkan dia karena perbuatannya ini. Maka dari itu ... tahun ini terpaksa sekolah kita tidak bisa ikut memeriahkan Natal seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi biarkan damai Natal menyadarkan bahwa kita ini adalah orang-orang yang cinta damai. Selamat Natal dan tahun baru. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Dan ... selamat liburan.” Begitu pidato usai dan bel berdering, anak-anak sontak berteriak kegirangan karena itu artinya mereka sudah liburan.
Bagi Oly ... ini adalah awal segalanya.

***
Ville mengajaknya untuk mampir ke rumah untuk bermain game, tapi Oly tidak menggubris. Dia pulang cepat hari itu. Mengganti pakaian dan membawa tas berisi perlengkapan perangnya serta mengeluarkan sepedanya dari garasi. Ibunya mengatakan bahwa dia tidak boleh pulang terlambat tapi Oly sudah mengayuhkan sepedanya ke jalan. Dia berhenti di taman yang berjarak tiga blok dari rumahnya dan membuka peta. Tujuan pertama dari Oly adalah toko-toko yang sepi pembeli tapi ada hiasan Natal. Dia sudah melingkari dengan tanda hijau di petanya. Hijau berarti target yang mudah. Ada beberapa titik dan Oly mulai beraksi.
Di toko pertama, Oly tidak mengalami kesulitan apa-apa dan kerusakan yang dia ciptakan tidak terlalu parah seperti sekolahnya. Dia melanjutkan untuk menghancurkan hiasan lainnya yang berada sepanjang jalan tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan walau jalanan tersebut tidak terlalu sepi. Oly melanjutkan menuju daerah yang lain di peta yang ia tandai dengan warna kuning. Di tempat ini rata-rata banyak orang. Apalagi dekat dengan pusat perbelanjaan di kota. Oly hanya memandangi orang-orang yang gembira dan cerita keluar menenteng belanjaan. Dia melihat petugas keamanan menebar senyum ke setiap orang yang melewati. Ada tiga petugas dan itu akan menyulitkan dirinya. Oly juga tak ingin dikenali oleh siapa pun di sini. Jadi dia menutupi wajahnya dengan penutup kepala dan memasang hoodie lalu menjauh. Yang ia butuhkan saat ini adalah sebuah jarak aman untuk melempar barangnya. Oly menuntun sepedanya menuju gang di tepi jalan, dia menghitung jarak dan kepadatan jalan raya. Lalu lintas masih sepi untuk sore seperti ini. Dia juga mengira-ngira tempat CCTV yang ada di jalan sambil mengendap-endap. Tingkahnya mungkin aneh, tapi siapa yang curiga dengan kelakuannya? Di kedua tangannya, benda yang siap untuk menghancurkan dipegang dan dimulailah aksinya. Mungkin daya rusak yang dihasilkan oleh alatnya tidak terlalu menghebohkan. Tidak ada yang mati dan tidak ada yang terluka. Tapi cukup untuk merusak bagian depan pusat perbelanjaan itu walau tak kerusakannya tak parah. Yang Oly fokuskan adalah segera menuju ke tempat di mana ia taruh sepeda sementara di belakangnya tiga orang petugas mengejar. Oly hampir saja ditabrak oleh seorang pengendara mobil kalau dia tidak cekatan untuk berkelit dan meninggalkan ketiga petugas itu lima meter di belakangnya sampai ia di gang, melompat ke arah sepeda yang dia dorong lalu mengayuh sepeda menuju jalan-jalan yang sudah ia tandai sebagai rute jalan keluar. Lima menit berselang, dia mengatur nafas di sebuah gang dekat tong sampah sambil tersenyum. Tak ada yang mengejarnya dan dia menatap jam tangannya. Sudah waktunya ayahnya pulang dan kini dia siap melanjutkan misi.
Tujuan berikutnya memang titik kuning yang jaraknya empat blok dari pusat perbelanjaan dan tentunya dia akan pulang terlambat bila dia melakukan misinya ini. Alasannya menempatkan tempat ini sebagai tujuannya sebelum pulang karena ayahnya bekerja di salah satu gedung di dekat pohon Natal terbesar di kota tersebut. Biasanya di malam hari akan ada nyanyian dari paduan suara setiap gereja untuk menarik amal. Kali ini, Oly tidak melakukan perbuatan yang sama karena dari tadi dia melihat beberapa mobil polisi. Kotanya memang tidak aman akhir-akhir ini, tapi dia juga menciptakan teror yang lumayan meresahkan namun tidak menakutkan. Pohon Natal itu berada di daerah pusat yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Tidak ada hal yang menarik selain ada taman berjarak lima ratus meter di situ yang sering digunakan sebagai tempat bermalam para gelandangan. Di balik pohon Natal raksasa itu ada kolam yang hanya bisa dilihat kalau hiasan Natal itu rusak atau dipindahkan. Gedung-gedung ini bukan tempat yang biasa dikunjungi oleh Oly. Tak ada hiburan selain melihat pohon di tengah kota? Bagi Oly itu seperti menaruh sambal merica di atas popcorn. Oly berjarak lima ratus dari pohon tersebut dan sudah ada beberapa orang yang berbaju sama berada di depan pohon. Mereka menyiapkan suara untuk membangun suasana kudus. Oly menghampiri dua bocah yang tampaknya kebosanan.
“Kau mau uang?” tanya Oly. Dia menunjukkan dua lembar uangnya. Kedua bocah itu saling menatap dan mengangguk. “Bagus. Jadi begini ....” Oly menyerahkan petasan serta kembang api dan menyuruh bocah itu menyalakannya di tengah keramaian pusat ini. Mereka menyetujui dan Oly memberi aba-aba.
“Sekarang!” Kini suara petasan mengganti suara keriuhan dan semua orang terkejut melihat dua bocah itu memainkan petasan dan kembang api di tengah banyak orang yang tentunya akan membahayakan serta menjadi incaran para petugas patroli. Begitu semua pandangan teralihkan, Oly segera melempar petasannya ke arah tumpukan kardus yang berbentuk kado di bawah pohon Natal. Sebelum menjauh dia mendekat ke salah satu penyanyi.
“Maaf ... tapi bajumu terbakar,” kata Oly ke pria yang diajaknya bicara. Pria itu sontak melihat ke belakangnya dan api sudah melalap baju belakangnya. Dia berteriak histeris sontak membuat teman-teman di dekatnya kaget dan heboh sementara kembang api belum berhenti menyala. Keramaian itu ditanggapi menjadi jerit ketakutan sebelum Oly berjalan dan menyalakan kembang apinya sendiri. Jeritan tangis dan menyayat langsung terdengar begitu melihat pohon Natal terbesar di kota itu terbakar. Liukan api yang melalap menjadi lampu yang paling terang dibanding lampu-lampu yang menyorot pohon itu.
Oly menyeringai melihat pemandangan itu. “Selamat liburan.”
This Christmas, everything will change, when they see the flames,
This Christmas day!

***
Sebelum dia sampai di rumah, dia harus berbelok dan yakin dia akan terlambat untuk makan malam. Dia tidak punya ponsel jadi orangtuanya pasti akan kebingungan mencarinya. Dia tidak peduli. Yang dia tuju adalah perkebunan pohon cemara si tua Jack. Oly menyenderkan sepedanya di bahu jalan dan berjalan di senja yang gelap menuju pohon-pohon cemara yang berjejer membentuk hutan kecil. Sambil berjalan dia membuat menaruh beberapa benda di bawah pohonnya. Sesekali dia melihat ke arah pondok si tua Jack yang terlihat dari tempatnya berada. Lampu pondok Jack sudah menyala dan Oly saat beraksi untuk malam ini. Dia mengeluarkan kapak dari tasnya dan mulai mengayunkannya kepada batang-batang cemara. Dia tak perlu membuatnya sambil runtuh, cukup membuat bekas kapaknya dalam dan dia berjalan mengitari kebun itu. Dia tahu kebun ini adalah penghasilan utama si tua Jack selama satu tahun karena pada bulan November dan Desember, orang-orang dari kota yang butuh cemara segar akan membeli langsung darinya. Oly belum pernah bertemu si tua Jack dan dia tidak peduli. Sudah hampir dua jam dan cuaca semakin menusuk kulitnya—dia melepas hoodie, sweater dan kaus, dia memutuskan untuk berhenti di pohon cemara yang tak terlalu besar tapi yang akan dia tumbangkan. Tangannya sudah kram mengapak setidaknya hampir dua puluh pohon dan di pohon terakhir, dia menuang minyak gas dan membakarnya. Gas itu menyulut ke atas batang. Di tanah, api juga menyulut ke jalur yang sudah dibuat oleh Oly menuju ke bungkusan yang dia jatuhkan ke tiap pohon. Dengan sedikit tenaga dari kakinya, dia menjejak pohon terakhir yang memang rencana dia tumbangkan begitu api melalap seluruh bagiannya. Dia berlari menuju sepedanya dan mendengar suara gemeretak api menghanguskan perkebunan itu dan yang diharapkan Oly terjadi. Efek jatuhnya pohon lalu menimpa pohon lainnya serta lainnya sehingga seperti efek domino hebat dan suara ledakan dari bungkusan yang dia taruh di setiap pohon membesar dan menambah luasnya penyebaran api. Oly melihatnya dari pinggir jalan sebelum memutuskan untuk pulang. Dia terlalu lelah sehingga ketika ibunya mengomel di depan pintu dia tersenyum sembari mengatakan.
“Ini Natal bu. Kenapa ibu tidak membiarkan bermain-main?”
Ibunya paham dan mempersilakan dirinya masuk. Ayahnya menanyai dirinya ke mana saja karena kota sedang kacau. Oly berbohong bahwa dia sedang mencoba game baru dan tidak mendengar kekacauan. Ayahnya menceritakan dan kini berita di televisi menampilkan perkebunan cemara si tua Jack yang hangus. Tak banyak yang rusak tapi yang terbakar adalah pohon-pohon cemara terbaik yang siap ditebang. Oly menikmati makan malamnya sendiri sambil mendengar cerita-cerita yang dia buat hari ini. Tubuhnya begitu lelah dan tidak menghabiskan makan malamnya saat reporter melaporkan tentang penembakan orang tak dikenal.
Di kamarnya, Oly merapikan alat-alat yang tersisa dari aksinya barusan. Hanya tersisa sedikit dan dia melihat petanya. Beberapa titik sudah dia beri silang dan dia mempertimbangkan akan langsung menuju titik merah di petanya. Ada beberapa titik merah, tapi dia tahu titik merah yang tepat untuk menjalankan aksinya. Sekarang yang dia butuhkan adalah tidur.

***
Ville membangunkan dirinya dari tempat tidur.
“Bung, apa kau mendengar berita tadi malam! Ini sungguh kacau bung!”
“A-apa?” Oly membalasnya sambil menutup matanya dan tidak ingin diganggu. Ini hari libur sehingga dia tahu Ville sedang bermain ke rumahnya.
“Sekelompok orang mencoba menghancurkan Natal bung! Ini gila! Ini seperti ....” Ville berhenti bicara. Oly meliriknya dan melongok ke bawah kasur. Ville sedang memandangi petanya dan mengangkat kapaknya.
“Kau punya seperti ini? Ini seperti nyata! Buat apa?!” Oly bersyukur Ville tidak bertanya macam-macam. Oly merebahkan kepalanya. “Kau buat apa bung?!”
“Aku membuat rumah pohon. Oke?! Sekarang diamlah dan biarkan aku tidur.”
“Maafkan aku. Tapi orangtuaku ada bersama orangtuamu. Mereka merencanakan pesta atau sesuatu. Lagi pula aku bosan di rumah dan mereka takut ada penembak misterius itu. Kota ini sepertinya terkutuk.”
“Baguslah kalau begitu.” Oly mulai mendengkur sebelum akhirnya Ville bicara lagi.
“Bolehkah aku main video game-mu?” Oly hanya menjawab dengan melempar bantalnya dan melanjutkan tidur.
Oly akhirnya bangun dan ikut bermain karena Ville tidak mengecilkan volume suara permainannya. Mereka berdua bermain sampai orangtua Ville memutuskan untuk pulang.
“Kau sudah beli hadiah Natal untukku bung? Kurasa aku menemukan hadiah yang tepat untukmu.”
Oly terdiam sambil memandang layar televisi dan terus bermain.
“Sampai bertemu besok.”
Ville keluar dari kamarnya dan Oly masih merasa kosong. Dia membuka internet dan melihat berita tentang kotanya. Walikota sudah mengumumkan adanya jam malam dan semua hiasan Natal yang di rusak terpaksa tidak digunakan lebih dahulu. Lalu dirinya menghimbau agar tidak berkeliaran sendirian pada malam hari demi mengurangi jatuhnya korban. Para polisi juga sudah dikerahkan untuk menjaga gereja. Oly bergegas keluar dari kamarnya dan pamit keluar.
“Kau mau ke mana?” tanya ibunya. “Bukankah kau kemarin malam sudah pulang terlambat? Dan tidak ada yang boleh keluar sendirian di malam hari karena walikota sudah mengatakannya?”
Oly menemukan alasan yang bagus. “Aku mau beli kado Natal untuk Ville.”
“Kau bisa mengajak aku atau ayahmu. Jangan keluar sendirian.” Ayahnya sekarang sedang menonton ulang pertandingan ulang sepak bola di televisi sambil memegang jus hangat.
“Err ... oke. Tapi kurasa aku perlu keluar sendiri saja. Aku mau mengembalikan game milik Ville. Tadi ketinggalan.”
Ibunya masih tidak percaya tapi Oly sudah menuntun sepedanya keluar rumah. Dia segera mengayuh sepedanya cepat demi mengusir udara dingin. Selama dia mengayuh, dia mendengarkan beberapa rumah menyetel lagu-lagu Natal diiringi dengan tawa yang memecah. Tidak ada yang berjalan-jalan di luar seperti dirinya saat ini. Hanya beberapa mobil yang dia temui dan itu tak membuatnya khawatir. Tujuannya kali ini ada mengecek target terakhirnya malam ini. Satu target terdekat dari rumahnya sudah dia tandai dengan warna merah di benaknya karena dia melihat beberapa polisi sedang menyisir di sekitarnya. Oly mengayuh sepedanya lagi, target kedua terdekat berada satu blok dari sekolahnya dan dia harus menandainya dengan tanda merah. Masih ada beberapa target yang dia belum tandai. Dia berhenti untuk makan di kedai yang jaraknya dua blok dari targetnya yang baru. Pelayan perempuan yang melayaninya berbau minyak goreng.
“Kau mau ke mana anak muda?”
“Berjalan-jalan. Mencari kado.” Oly menjawabnya sambil mengunyah roti lapis daging yang dia pesan.
“Berhati-hatilah. Mereka senang daun muda seperti mu.”
Oly tidak menghiraukan perkataan perempuan itu dan menekuri peta kotanya sekali lagi. Beberapa target dia tandai dengan tanda merah secara langsung karena tempat itu berada di wilayah ramai atau berjarak dekat dengan kantor polisi. Dia juga memutuskan untuk tidak bertindak di target dekat kedai ini. Oly memutuskan untuk melanjutkan mencari target sebelum sore hari sementara cuacanya semakin dingin ditambah dengan gerimis lembut. Terlalu banyak target dan pertimbangan bahwa target tersebut memang selalu dicari banyak orang memang membuat Oly berpikir untuk menelepon ibunya dari telepon umum.
“Ya ... aku tak apa. Aku cuma penasaran. Besok pagi di mana kita akan pergi ke gereja?”
Oly menyeringai mendengar jawaban ibunya. Cepat ia mengayuh sepedanya dan menuju ke pinggiran kota dan melihat gereja tua itu tanpa adanya pengawalan dari polisi.
“Aku menemukan target terakhirku.”

***
Oly percaya adanya sosok Grinch yang suka mencuri hadiah Natal dan mengacaukannya. Sosok itu fiksi tapi saat ini dia terbayang sosok itu sudah menjelma jadi dirinya seutuhnya. Dia punya topeng Grinch yang dibeli murah sewaktu masih kecil dan topeng itu masih muat di kepalanya. Sewaktu orangtuanya tidur, dia mengendap-endap keluar dari rumahnya, membuka pintu garasi yang dia sengaja buka selotnya sehabis makan malam agar dia bisa mengeluarkan sepedanya dengan gampang dan kini Oly sendirian bersepeda di saat semua orang terlelap memimpikan hadiah Natal apa yang akan mereka terima esok.
Tonights the night, I have to do it right now!
So, I will strike when all's asleep
And creep, sneaking through your chimney!
Saint Nic is gone for now
Oly mendongak ke langit malam yang mendung. Dia berharap menemukan siluet kereta yang ditarik oleh rusa dan bertemu dengan Santa Claus yang mencoba mencegah niat buruknya dan Piet Hitam akan langsung memasukkannya ke dalam kantong. Tapi kalau itu terjadi, Oly ingin sekali berduel dengan pria gemuk berjenggot putih itu. Dia yakin akan menang walau dia akan menggunakan cara licik.
Tempat tujuan malam ini berada di sekitar perkampungan. Rumah-rumah lawas yang biasanya diisi oleh pasangan tua yang menghabiskan masa tuanya. Tapi gereja yang dia tuju masih agak jauh lagi walau tempat yang ia lewati tak terlalu gelap. Oly menaruh sepedanya di ujung jalan dan mengamati gereja tersebut. Lonceng tua yang berada di atas menara terlihat begitu kokoh. Ada hiasan gua Natal di samping pintu masuk gereja seperti yang dipasang di aula sekolahnya. Oly menyiramnya dengan bensin gua itu lalu berjalan mengitari gereja dengan terus menuang bensin. Walau gereja itu berada di pinggir jalan, di sekitar gereja itu tak ada bangunan sipil jadi efek kebakaran yang dihasilkan tidak akan merembet ke mana-mana. Di belakang gereja terdapat pemakaman umum dan jauh di belakangnya hutan lindung. Sewaktu Oly melewati belakang gereja untuk mengganti bensin, dia merasa ada yang mengawasinya dari kejauhan. Pikir Oly kalau itu binatang buas yang mau mencegah perbuatannya, lebih bagus daripada harus berhadapan dengan orang dewasa. Seusai dia menuang bensin, Oly tidak buru-buru untuk menyalakan api. Dia baru tahu kalau pintu samping gereja tidak dikunci. Jadi dia masuk ke dalam untuk melihat seperti apa gereja tersebut. Sekalian menghabiskan bensin sisa yang ada di dalam tasnya.
Gereja itu mampu menampung sekitar 500 umat di dalamnya. Ruangannya tak terlalu luas namun kesannya terlalu menakutkan bila tidak ada lampu yang dinyalakan. Toh sebentar lagi akan ada api yang membuat gereja itu tampak jauh lebih terang. Sembari memandangi gereja, Oly juga menuangkan bensin di dalam ruangan itu sampai bau bensin menyeruak. Di depan altar, Oly tersenyum dan menghabiskan sisa bensinnya dan menaruh bungkusan petasan terakhir di bawah pohon Natal di dekat altar.
“Apa yang kau lakukan, Nak?”
Suara itu tidak mengagetkan Oly sama sekali. Dia tetap santai menaruh petasan sambil berpikir, dia akan menyulut api itu sekarang dan lari secepat-cepatnya. Namun begitu menengok dan melihat pastur berada di belakangnya dia merasa kasihan harus mengorbankan pastur tua itu bersama gereja yang terbakar ini.
“Tidak ada. Aku hanya menaruh hadiah. Besok aku tidak ke gereja,” jawab Oly santai. Dia hendak pergi seolah tak pernah terjadi sesuatu dan dia berniat membakar gereja itu dari luar setelah tidak berurusan dengan pastur tua itu.
“Kau mencium bau bensin di sekitar sini?”
“Tidak.”
“Tapi aku melihat ada satu wadah bensin di belakang dan berbotol-botol minyak yang cepat terbakar di samping dan di dekat gua.”
“Apa maumu?!” Oly kesal dan dia berpikir bahwa setidaknya dengan kekuatannya, dia mampu mengalahkan pastur tua itu. Toh sekarang dia memakai topeng Grinch. Identitasnya tidak akan terungkap.
“Kau hendak membakar tempat suci ini anak muda?”
“Ya. Dan itu hanya bagimu tempat ini suci. Bagiku tidak.”
“Kau mengimani-Nya?”
“Tentu. Tapi tidak saat ini. Aku ingin ditangkap Piet Hitam.”
“Kenapa?”
“Aku bosan menjadi orang baik.”
“Tapi Dia tidak pernah bosan membuat orang menjadi baik. Apakah kau tahu tentang kasih-Nya?”
“Dengar pastur. Aku tidak perlu ceramahmu. Kau tak bisa mencegahku. Aku sudah menyebar setidaknya berliter-liter bensin dan akan membuat tempat ini terbakar dengan sekejap. Ada petasan yang mudah terbakar di sini—“ Oly menunjuk ke pohon Natal di dekatnya, “—dan di gua depan.”
“Kau pelaku perusakan hiasan Natal di kota bukan? Pohon Natal raksasa itu juga?”
“Ya. Kau sudah tahu sekarang. Apakah kau mengampuni dosaku?”
Pastur itu tersenyum. “Asal kau bersedia bertobat, Dia akan mengampuni dosamu.”
“Sayangnya itu tidak akan terjadi sekarang. Aku mau pergi. Ke sini membuatku capek.”
Saat Oly hendak melangkah, pastur itu berkata lagi. “Kau tahu kenapa gereja ini tidak dijaga?”
“Bukan urusanku,” sahut Oly yang tetap melangkah dan mengitari bangku-bangku jemaat tidak ingin mengonfrontasi pastur itu secara langsung.
“Karena ini adalah gereja yang paling tua di kota ini. Tidak ada lagi umat datang ke sini karena mereka pikir gereja ini kuno.”
Oly memandangi pastur itu dari balik topengnya. Dia melihat kerutan di wajah pastur itu membentuk senyuman.
“Berterima kasihlah padaku karena dengan aku membakar gereja ini maka gereja ini akan segera dipugar dan dibangun gereja baru,” kata Oly sinis.
“Jadi apa tujuanmu membakar gereja ini?”
Oly tidak sabar lagi. Dia menyalakan korek apinya. “Lihat. Api ini akan kubuang dan gereja ini akan terbakar secara cepat. Mungkin karena cuaca dingin, butuh waktu lama, tapi kau tidak tahu petasan yang kutaruh itu bisa membakar apapun dengan cepat dan menimbulkan ledakan. Kalau kita berdua tidak menyingkir, kita akan habis terbakar.”
Pastur itu tersenyum dan duduk di salah satu bangku. “Lakukan sesukamu, anakku.”
Oly tambah bingung dengan sikap pastur itu. “Apa maksudmu? Hei! Pergilah!”
“Tidak. Aku tidak akan pergi. Ini tempatku sejak dulu dan aku ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Kau yang pergi. Aku tidak memanggil polisi atau pemadam kebakaran. Lakukan tugasmu dan pergilah.”
“Kau sudah kuperingatkan.” Oly keluar melalui pintu samping dan mengatur nafasnya. Dia mengintip dan pastur itu masih berada di dalam. “Sial!”
Oly merasa dirinya bimbang. Dia tidak mau menjadi pembunuh. Tidak. Dia hanya ingin membakar Natal dan merusaknya. Tapi melihat pastur itu masih berada di dalam gereja, rencananya gagal. Dia ingin sekali memukuli pastur itu sampai pingsan dan menyeretnya menjauh agar tidak ikut terbakar, tapi tetap saja ... dia tidak bisa. Oly kembali masuk dan berteriak sambil gemetar.
“Pergilah dari tempat itu pak tua! Aku akan membakar tempat ini!”
Pastur itu menjawabnya dengan lembut. “Aku sedang berdoa anakku. Kau mengusir orang berdoa dari rumah-Nya? Aku sudah mengatakan padamu. Lakukan apa tugasmu dan aku melakukan tugasku. Kita semua punya peran masing-masing di dunia ini. Aku akan berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaanmu.”
Oly tak bisa menahan gemetar tubuhnya. “K-kenapa?”
“Kau anak baik, anakku. Kau hanya tidak tahu bahwa sebenarnya kau kesepian. Tidakkah kau ingat bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan siapa pun yang mau bertobat pada-Nya. Dia akan mencari anak domba-Nya yang hilang. Dia—“
“Tutup mulutmu!”
Oly merasa topeng yang ia pakai menjadi sesak. Dia berlari keluar dan membuka topeng itu di bawah pohon halaman gereja. Dia merasa lega dan tak sadar bahwa air matanya keluar. Oly menangis. Kata-kata pastur tadi terngiang di kepalanya. Ada yang salah dengan ini semua. Dia tak mampu berpikir dan memutuskan untuk mengembalikan rencana jahatnya sambil bersandar di bawah pohon itu menatap gereja dan mendengarkan suasana senyap sekitarnya.
Dari kejauhan, ketika Oly sudah bisa mengontrol nafasnya dia mendengarkan lagu “Malam Kudus” mengalun pelan dibawa angin. Pikiran Oly menerawang ketika dia kecil dirinya selalu menyanyikannya bersama kedua orangtuanya. Pikiran itu tidak menenangkannya malah membuatnya semakin sesak. Dia teringat teman-temannya yang menunggu Santa Claus sehabis perayaan Natal. Suara tertawa mereka mendapatkan hadiah. Dan teman-teman yang nakal setelah mereka dibujuk untuk masuk ke dalam karung Piet Hitam namun tetap saja Santa Claus memberinya hadiah. Oly merasa semua tubuhnya luruh. Dia memutuskan untuk pulang. Tubuhnya terlalu tak bisa menahan apa yang bergemuruh di dalam hatinya. Suara lagu-lagu Natal semakin mengumandang dan Oly memantapkan dirinya untuk membatalkan rencananya.
“Hei bocah.”
Oly melihat siapa yang menyapanya dan semuanya terjadi begitu cepat. Oly limbung dan tubuhnya jatuh ke jalanan. Dia merasakan jalanan itu yang dingin langsung memanas. Tubuhnya tak bisa melawan kehendak setelah dia mendengar suara letusan dan dadanya terasa ngilu. Oly ingin lari tapi terlambat. Dia tidak ingat apa-apa lagi, kecuali pria yang menembaknya menggeledah tubuhnya, menemukan korek api dan menyalakannya untuk membakar rokok yang dari tadi menggantung di mulutnya.
“Selamat Natal,” kata suara itu kasar dan membuang korek tepat ke jalur bensin yang dituang oleh Oly. Api itu melalap gereja itu dengan cepat. Oly sudah tidak bergerak dan pria itu berlari menjauh tak menduga api kecil itu sanggup membakar gereja itu dengan cepat.
“Ho ... ho ... ho ...” teriak pria itu kencang sambil menaiki rusa berhidung merah yang menyala lalu terbang tinggi meninggalkan korban anak kecilnya yang nakal dan gereja yang terbakar.
Malam Natal kali itu segalanya berubah menjadi panas dan gelap. Laskar surgawi menyanyi untuk menyambut kedatangan ... siapa lagi? Dan lagi ... siapa peduli?



(Madiun, 02-07 Desember 2014)

Merry KissmyAss
*Set It Off – This Christmas (I’ll Burn It to the Ground)

 

2 komentar:

  1. Janji harus ditepati. Saya sudah download cerpennya. Habis baca, pasti mampir lagi buat komentar, atau nggak, di Twitter aja :p

    BalasHapus

macbeth