Senin, 17 Juni 2013

MANIFESTO JACOB JULIAN



Sebuah Duka, Sebuah Tanda Setia, Sebuah Tanda Pengharapan dan Tindakan Untuk Berhenti Menulis.
Manifesto Jacob Julian.

Terpikir sejak 15-06-2013 – 16-06-2013
Tertulis saat mata hati tubuh lelah akibat deraan.

Seorang tua, doktor, berkata pada saya, Jacob Julian, 23 tahun, (mantan) penulis, jomblo, ditolak wanita yang sangat dia cintai 3 kali—hai wanita, kamu sudah buat hattrick di hatiku, kamu menjebol gawang cintaku yang kau kawal untuk dia yang selalu berada di saat kau rapuh. Aku mungkin kesebelasan kalah dan terdegradasi ke liga cinta kegelapan tapi aku yakin bursa transfer musim panas ini kamu akan jadi milikku :’)—bahwa, pohon itu hanya bergantung pada air di tanah tapi dia bisa besar.

Saya hanya tersenyum dan menjawab, “Kalau saya pohon itu, saya belum menemukan air tanahnya.”
 Doktor itu mengangguk, “Memang. Itu benar. Saya yakin kamu bakal besar.”

Ya saya besar. Tinggi 172 dengan berat 100kg, saya seperti beruang aneh yang manja karena kehilangan madu yang dia cintai.

Yang dia cintai lebih mencintai orang yang lebih paham. Di kisah fiksi, orang yang setia mencintai seseorang yang sudah berada di dalam hatinya berakhir mati. Semuanya. Saya pun demikian.

Sudah semenjak bulan Maret lalu saya berhenti total untuk menulis. Menulis apapun walau novel baru saya terbit. Tapi saya selalu bangga dengan penyematan kata ‘penulis’ di setiap saya ditanyai sedang kerja apa.
Cinta yang saya cintai membuat saya berduka saat saya menemuinya dan dia tidak mengubah haluan dari mercusuar yang dia agungkan yang dia sembah. Sedang saya hanya karang kecil yang siap menumbangkan mereka. Saya bisa saja bunuh dia yang saya cintai atau dia yang dicintai apa yang saya cintai. Saya ini semacam parasit. Saya adalah reaktor nuklir yang tidak stabil. Hulu ledaknya sudah diambil dan efek pertama adalah saya kehilangan masa depan untuk menulis. Ini tulisan pertama saya yang rapi karena tersusun dari serpihan luka yang dia yang saya cintai perbuat.

Sebuah keputusan sudah saya buat ... bila dia ingin berbalik, saya akan berada di sisi karang. Setia menunggu. Dia tahu tempatnya. Kalau dia ingin saya move on, saya tidak bisa karena karang itu terbentuk oleh alam. Alam terbentuk karena proses jutaan tahun yang sekarang menjadi kecil. 

Kembali ke pernyataan filosofi oleh doktor yang saya temui tadi adalah ... saya berada di tanah kering dan kerontang. Dia yang saya impikan jadi sebuah mendung yang teduh serta menjadi awan gelap yang terus mengguyur hujan menyirami tanahku sudah pergi. Saya tidak percaya akan ada awan yang sama ... tapi saya percaya awan yang sama pasti kembali ke tempat dia lupa untuk mengeluarkan air mata.

Dia juga berharap saya akan besar. Tapi air semangatnya sudah dia berikan. Dia berharap bila saya sudah tahu semuanya, saya bisa bergerak. Tidak ... saya adalah tanaman batu karang yang tak akan bergerak. Dia harusnya tahu bahwa saya tidak main-main menunggunya. Kurang bukti apalagi?

Sebuah karya bahwa saya benar-benar cinta dia?

Kalau dia ingin saya berkarya, dia bisa menulis di blog nya hari ini juga kalau dia ingin saya menyatakannya. Tapi kalau dia minta saya kembali ke masa lalu dan berada saat dia berada dalam kegelapan dan saya tidak tahu apa-apa karena dia tidak cerita dan tidak mau cerita ... saya akan memaki langit dan waktu.

Semuanya sudah berakhir.

Manifesto tindakan berhenti menulis sudah dimulai:

MANIFESTO TIDAK MENULIS!



Biar saja tintaku kering, asal aku masih menunggumu di sini.

Biar saja ideku terus mengalir tapi dunia tidak mengetahui, karena aku menunggu kamu. Ya kamu adalah tempat pertama yang harus tahu ideku semua.

Biar saja saya tidak disebut penulis lagi, karena ini adalah akuisisi harga diri.

Biar saja saya tidak akan membaca lagi, karena di saat membaca itu, aku membayangkan kamu dan dia sedang asyik memadu kasih.

Saya Jacob Julian ... bukan penulis lagi.

Bila ada yang membaca hal ini dengan sungguh-sungguh, akan mengerti apa arti kesungguhan itu sendiri dibalik apa yang terakhir saya tulis.

Buat dia .... Aku masih setia. Kamu tahu aku berada di mana.

Kota negara dunia ketiga, capai, bau rel kereta api, hutang di sana-sini.
Jacob Julian ....

3 komentar:

  1. Saat aku istirahat kerja, aku baca ini, sereasa refresh aja, ditengah2 kepusingan nulis script pemrograman web, belum aku baca sampek selesai seh, berhubung istirahat siang belum selesai, pesenku sih, jangan berhenti menulis jacob, apalagi yang tentang diri sendiri kayak gini,,,,, sumpah lucu... lain kali saat aku pusing nulis script program, aku bakalan baca ini lagi deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada kalanya sebuah masa penulis disebut writer block dan sebuah perasaan kekecewaan hati karena apa yang kita tuju pada sebuah kutub tidak mau menerima kita dengan apa adanya.

      ini bukan WB,
      ini tentang kekecewaan.

      kalau aku tidak berhenti menulis, berarti aku kalah kepada dia yang membuatku seperti ini sekali lagi.

      aku sudah bolak-balik kalah, untuk siapa aku harus menang?

      terima kasih kalau ini sudah menghibur kamu Amidah Budi Utami. Sukseslah di tempat kerja.

      Hapus

macbeth